Rabu, 12 September 2012

MAKALAH FISIOLOGI ANATOMI ALAT REPRODUKSI PRIA

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Organ reproduksi merupakan kegiatan organ kelamin laki-laki dan perempuan yang khusus yaitu testis menghasilkan spermatozoid ( sel kelamin laki-laki) dan ovarium menghasilkan ovum ( sel kelamin perempuan ), organ reproduksi menentukan perkembangan baik fisik maupun psikis pada masing –masing individu. Organ reproduksi membentuk apa yang disebut sebagai traktus genitalis yang berkembang setelah traktus urinarius. Kelamin laki-laki maupun perempuan sejak lahir sudah dapat di tentukan tetapi sifat-sifat kelamin belum dapat dikenal sel reproduksi berkembang di sebelah depan ginjal yang tumbuh sebagai koloni-koloni sel kemudian membentuk kelenjar reproduksi. Perkembangan sifat terjadi pada umur 10-14 tahun perubahan penting terjadi pada usia remaja ketika jiwa dan raga menjadi matang. Pada laki-laki dewasa puberitas dumulai dengan perubahan suara lebih berat, pembesaran genitalia exsterna, tampilnya bulu diatas tubuh dan muka sedangkan pada wanita dimulai dengan menstruasi pertama (menarke). B. Rumusan Masalah. Dalam pembahasan dimakalah mengenai fisiologi sistem reproduksi laki-laki ini kelompok kami ingin menentukan rumusan masalah sebagai berikut agar pembahasan tidak terlalu menyimpang. 1. Organ reproduksi laki-laki. 2. Hormon yang Mempegaruhi Fisiologi Reproduksi laki-laki. 3. Kegiatan seksual laki-laki dan Fisiologi Sperma. 4. Pengaturan fungsi reproduksi. C. Tujuan Penulisan. Dalam penulisan makalah ini kami memiliki tujuan agar dapat memahami fisiologi sistem reproduksi laki-laki. Serta dapat mengerti bagaimana perkembangan fisiologi reproduksi laki-laki dan bagaimana hormon laki-laki dapat menghasilkan sperma dan menetukan perkembangan fisik. BAB II PEMBAHASAN A. Organ Reproduksi laki-laki. Genitalia pada laki-laki tidak terpisah dengan saluran uretra, berjalan sejajar pada kelamin luar laki-laki. Alat kelamin laki-laki terbagi atas tiga bagian: 1. kelenjar yang termasuk kelenjar ialah: a.Testis. Testis adalah genitalia pria yang terletak di skrotum, ukuran testis pada orang dewasa adalah 4 x 3 x 2,5 cm, dengan volume 15 – 25 ml berbentuk avoid. Kedua buah testis terbungkus oleh jaringan tunika albuginea yang melekat pada testis. b.Vesika seminalis. Kelenjar yang panjangnya 5-10 cm, berupa kantong seperti huruf S berbelok- belok secret nya yang alkalis bersama dengan cairan prostat merupakan bagian terbesar dari semen yang mengandung froktosa yang merupakan sumber energy untuk spermatozoa. c.Prostat. Kelenjar prostat menghasilkan cairan encer yang mengandung ion sitrat, ion phospat, enzim pembeku, dan profibrinosilin. Selama pengisian kelenjar prostat berkontraksi sejalan dengan kontraksi vas deferens sehingga cairan encer dapat dikeluarkan untuk menambah lebih banyak jumlah semen. 2. kelenjar duktuli yang termasuk kelenjar duktuli: a.Epididimis Epididimis adalah organ yang berbentuk seperti sosis terdiri atas kaput, korpus dan kaudo epididimis korpus epididimis dihubungkan dengan testis melalui duktuli eferentes. b.Duktus deferens. Duktus deferens merupakan kelanjutan dari epididymis kekanalis inguinalis kemudian duktus ini berjalan kedalam rongga perut dan kandung kemih. c.Uretra. Uretra merupakan saluran kemih pada pria yang sekaligus merupakan saluran ejakulasi (mani) pengeluaran urin tidak bersamaan dengan ejakulasi karena di atur oleh kegiatan kontraksi prostat, pada laki-laki uretra berjalan berkelok-kelok melalui tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa. 3. bangun penyambung. a. skrotum. Skrotum merupakan kantong yang menggantung di dalam dasar pelvis, tempat sepasang testis tersimpan.di depan skrotum terletak penis, di belakang skrotum terletak anus. Skrotum (kandung buah pelir ) berupa kantung yang terdiri atas kulit tanpa lemak. Subkutan berisi sedikit jaringan otot, testis ( buah pelir ) berada dalam pembungkus yang disebut tunika vaginalis yang terbentuk dari peritoneum. b.penis Penis terletak mengantung di depan skrotum, bagian ujung penis disebut glam penis bagian tengah di sebut korpus penis dan pangkal nya disebut radiks penis. Glam penis tertutup oleh kulit korpus penis. Kulit penutup ini disebut prepusium. Penis (zakar) terdiri dari jaringan seperti busa dan terletak memanjang, tempat muara uretra dari glam penis adalah frenulum atau kulup. Penis merupakan alat yang memiliki jaringan erektik yang satu sama lain di lapisi jaringan fibrosa. Dengan adanya rangsangan seksual karet busa akan di penuhi darah sebagai vasoperi. Berdasarkan terjadinya ereksi penis di pegaruhi otot sebagai berikut: muskulus iskia kavernosus, muskulus erector penis otot- otot ini memyebabkan erektil ( ketegangan) pada waktu koitus (persetubuhan) dan muskulus bulbo kavernosus untuk mengeluarkan urin. B. Hormon Yang mempengaruhi Fisiologi Reproduksi Laki-Laki. Hormon pada fisiologi laki-laki memiliki fungsi dalam proses pemantangan dan pembentukan sifat, sperma dan mental. Hormone juga mempegaruhi perkembangan fisik dan psikis seseorang apabilaseorang mengalami kekurangan hormon akan berpegaruh ter hadap pertumbuhannya dan akan menimbulkan ketidak tepatan pada proses reproduksi inilah beberapa hormone yang berpegaruh terhadap fisiologi reproduksi laki-laki: a. Testosteron Dihasilkan oleh sel interstisial yang terletak antara tubulus seminiferus. Sel ini berjumlah sedikit pada bayi dan anak, tetapi banyak terdapat pada pria dewasa. Setelah pubertas, sel interstisial banyak menghasilkan hoormon testosteron yang di sekresi oleh testis. Sebagian besar testosteron berikatan longgar dengan protein plasma yang terdapat dalam darah dan sebagian terikat pada jaringan yang di buahi dalam sel menjadi dehidrasi testosteron. Testosteron yang tidak terikat pada jaringan dengan cepat di ubah oleh hati menjadi aldosteron dan dehidroepialdosteron. Konjugasi ini di sekresi dalam usus melalui empedu kedalam urin. Fungsi hormon testosteron adalah untuk menentukan sifat-sifat kejantanan. Misalnya: tumbuhnya jenggot dan jakun, suara yang membesar, sertabentuk bada yang besar dan kuat. b.Hormon FSH dan LH Hormon gonadotropik berasal dari follicle stimulating hormone(FSH) yang merangsang perkembangan Folikel Graaf dalam ovarium dan pembentukan spermatozoa dalam testis. Luteinizing hormone(LH), mengendalikan sekresi estrogen dan progesteron dalam ovarium dan testosteron dalam testis. c.Hormon Estrogen Dibentuk dari testosteron yang di rangsang oleh horon perangsang folikel. Hormon ini memungkinkan spermatogenesis untuk menyekresi protein pengikat endogen untuk mengikat testosteron dan estrogen serta membawa keduanya kedalam cairan lumen tubulus seminiferus untuk pematangan sperma. C. Kegiatan Seksual Laki-Laki dan Fisiologi Sperma. 1. Kegiatan Seksual Laki-Laki. Mekanisme neuroendokrin yang mengatur fungsi testis pada dasarnya serupa dengan mekanisme yang mengatur fungsi ovarium. GnRH hipotalamus yang disekresi ke dalam sistem portal hipofisis menstimulasi sintesis dan pelepasan gonadotropin FSH dan LH. FSH dan LH mengatur aktivitas spermatogenesis dan endokrin testis. Pria pasca pubertas terus menerus mengalami gametogenesis dan produksi testosteron ; sementara pada wanita masa pasca pubertas mengalami periode yang siklis. Tidak adanya periode siklis pada pria disebabkan oleh karena androgen tidak menggunakan mekanisme umpan balik positif pada pelepasan gonadotropin. Testosteron adalah pengatur utama sekresi LH pada pria. Otot-otot di sekitar vena yang dalam keadaan normal mengalirkan darah dari penis, akan memperlambat aliran darahnya. Tekanan darah yang meningkat di dalam penis menyebabkan panjang dan diameter penis bertambah. Ejakulasi terjadi pada saat mencapai klimaks, yaitu ketika gesekan pada glans penis dan rangsangan lainnya mengirimkan sinyal ke otak dan kordaspinalis. saraf merangsang kontraksi otot di sepanjang saluran epididimis dan vas deferens, vesikula seminalis dan prostat. kontraksi ini mendorong semen ke dalam uretra. Selanjutnya kontraksi otot di sekeliling urretra akan mendorong semen keluar dari penis. Leher kandung kemih juga berkonstriksi agar semen tidak mengalir kembali ke dalam kandung kemih. Setelah terjadi ejakulasi (atau setelah rangsangan berhenti), arteri mengencang dan vena mengendur. Akibatnya aliran darah yang masuk ke arteri berkurang dan aliran darah yang keluar dari vena bertambah, sehingga penis menjadi lunak. Rangsangan akhir organ sensorik dan sensasi seksual menyebar melalui saraf pudendus melalui pleksus sakralis dari medula spinalis untuk membantu rangsangan aksi seksual dalam mengirim sinyal ke modula dan berfungsi untuk meningkatkan sensasi seksual yang berasal dari struktur interna. Dorongan seksual akan mengisi organ seksual dengan sekret yang menyebabkan keinginan seksual dengan merangsang kendung kemih dan mukosa uretra.Unsur psikis ramgsangan seksual: sesuai dengan meningkatnya kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan seksual dengan memikirkan/khayalan akan menyebabkan terjadinya aksi seksual sehingga menimbulkan ejakulasi atau pengeluaran sepanjang mimpi/khayalan, terutama usia remaja.Aksi seksual pada modula spinalis: fungsi otak tidak terlalu penting karena rangsangan genital yang menyebabkan ejakulasi dihasilkan dari mekanisme refleks yang sudah terintegrasi pada modula spinalis lumbalis. Mekanisme ini dapat dirangsang secara psikis dan seksual yang nyata atau kombinasi keduanya. 2. Fisiologi spermatogenesis Mortilitas dan fertilitas sperma terjadi karena gerakan flagella melalui medium cairan. Sperma normal cenderung untuk bergerak lurus daripada berputar. Aktifitas ini, di tingkatkan dalam medium medium dan sedikit basa. Pada medium yang sangat asam dapat mematikan bersamaan dengan peningkatan suhu dan kecepatan dan metabolisme. Sperma pada traktus genitalia wanita hanya dapat hidup 1-2 hari. a. Proses pembentukan sperma Sel Sperma merupakan sel kelamin ( gamet ) yang dihasilkan oleh pria yang sudah mencapai akil baligh . Sel sperma ini diproduksi oleh organ yang berbentuk 2 buah bulatan di bawah alat kelamin pria yaitu testis . Testis pria mampu menghasilkan jutaan sel sperma tiap harinya . Dan pria mengeluarkan kurang lebih 2 juta sperma setiap kali ia berejakulasi . Spermatogenesis terjadi melalui beberapa fase , yaitu : a. Fase Pertumbuhan b. Fase Pembelahan c. Fase Diferensiasi 1. Fase Pertumbuhan Pada Fase Pertumbuhan sel – sel calon indung sperma tumbuh , membesar , dan berduplikasi . Pada Fase ini juga terjadi penambahan materi inti , sintesis DNA dan sintesis organel sel . Fase ini juga disebut fase persiapan sebelum melakukan pembelahan . Akhir dari Fase Pertumbuhan terbentuklah Spermatogonium ( Sel Induk Sperma ) yang sudah siap untuk melakukan pembelahan . 2. Fase Pembelahan Tiap Spermatogonium yang sudah terbentuk akan mengalami proses pembelahan . Spermatogonium yang terbentuk akan menjadi Spermatosit Primer . Spermatosit Primer ini lah yang akan mengalami pembelahan . Pembelahan yang tejadi adalah pembelahan Meiosis , yaitu pembelahan yang terjadi pada pembentukan gamet yang bertujuan untuk mereduksi jumlah kromosom . Spermatosit Primer mengalami pembelahan Meiosip 1 membentuk 2 buah Spermatosit Sekunder . Jumlah kromosom sel Spermatosit Sekunder adalah setengah dari Sel Spermatosit Primer Pembelahan belum selesai . Speratosit Sekunder yang tebentuk akan segera mengalami pembelahan menjadi 4 buah Spermatid . Spermatid ini lah sel yang akan menjadi sel sperma . 3. Fase Diferensiasi Spermatid yang terbentuk pada fase pembelahan harus mengalami perubahan agar mampu berenang mencari letak sel telur . Bentuk awalnya yang hanya berbentuk bulatan dirasa tidak mungkin mampu mencapai sel telur . Maka dari itu , spermatid harus mengalami Diferensiasi menjadi sel – sel sperma yang siap untuk membuahi sel telur . Setelah proses Diferensiasi , terbentuklah 4 buah sel sperma aktif yang strukturnya sudah berubah . Kini sperma anda berbentuk seperti seekor berudu , dengan bentuk kepala seperti mata panah dan berekor panjang . Tentu saja bentuk seperti ini dimaksudkan agar sel sperma bisa dengan mudah berenang mencapai sel telur . Selain itu pada bagian kepala terdapat organel aparatus golgi yang berfungsi pada saat penetrasi . Pembentukan sperma bukan hal yang gampang jika difikirkan oleh fikiran manusia . Maka dari itu , janganlah buang – buang sperma jika memang tidak terdesak . Jaga kesehatan reproduksi dengan tetap berolah raga dan mengkonsumsi makanan yang sehat ,agar produksi sperma tidak terganggu . Tauge dan air kelapa dipercaya mampu meningkatkan produksi sel sperma. b. Proses pematangan sperma. Setiap bulan, testis memprosuksi 10-30 juta sel sperma. Sebelum menjadi sel-sel sperma yang matang, harus melalui proses beberapa tahap. Tahap pertama merupakan pengembangan sel kelamin awal sel sperma atau disebut spermatogonium. Tahap kedua, menjadi sel kelamin spermatosit primer dalam dinding tubulus semeniferous di testis. Selanjutnya, sel eklamin spermatosit primer akan menjadi spermatoist sekunder lalu masing-masing membelah lagi dan berkembang menjadi spermatid atau yang disebut sel sperma muda. Tahap akhir adalah spermatid menjadi sperma matang (spermatozoa) yang siap untuk membuahi. Kelima tahap proses pemetangan sel sperma ini yang disebut spermatogenesis. Untuk mencapai kematangan penuh, yaitu spermatogonium sampai spermatozoa membutuhkan waktu 60-70 jam. Proses pematangan sel sperma juga melalui beberapa organ reproduksinya. Sel sperma yang baru terbentuk dalam testis akan berjalan melalui saluran mani (tubulus seminiferous) menuju epididimis yang terletak di belakang testis. Di dalam epidodimis, sel sperma disimpan dan akan berkembang. Selanjutnya dari epididimis bergabung membentuk satu saluran mani (vas deferens). Saluran ini yang akan menghubungkan epididimis dengan kelenjar prostat. Di sini sel sperma bercampur dengan cairan mani yang berkumpul pada sebuah tempat yang disebut ampula. Dari ampula menuju duktus ejakulatorius yang bermuara pada pangkal saluran kencing (uretra). Pada keadaan ini sel mani siap dipancarkan (ejakulasi) Jika tudak digunakan sel-sel sperma akan kembali diserap oleh tubuh atau si pria akan mangalami “mimpi basah”. Sebaliknya, jika terjadi ejakulasi, sel-sel sperma tersebut akan keluar melalui vans deferens dan bercampur dengan air mani. Sel-sel sperma akan habis jika terjadi 3-4 kali ejakulasi selama 12 jam. Tiga hari kemudian, epididimis akan terisi kembali. Setelah terbentuk dalam tubulus seminiferus, sperma membutuhkan waktu beberapa hari untuk melewati epididimis. Sperma bergerak dari tubulus seminiferus ke bagian awal epididimis selama18-24 jam. Sperma memiliki kemampuan motilitas walaupun beberapa faktor menghambat cairan dalam epididimis untuk mencegah mobilitas setelah proses ejakulasi menyekresi cairan yang mengandung hormon testosteron dan estrogen, enzim-enzim, serta nutrisi khusus untuk pematangan sperma. c. Semen Cairan semen berasal dari vas deferens dan merupakan cairan yang terakhir di ejakulasi. Semen berfungsi untuk mendorong sperma keluar dari duktus ejakulatorius dan uretra. Cairan dari vesikula seminalis membuat semen lebih kental. Enzim pembeku dari cairan prostat menyebabkan fibrinogen dari cairan vesikula seminalis membentuk kuagulum yang lemah.Walaupun sperma dapat hidup beberapa minggu dalam duktus genitalia pria setelah sperma di ejakulasi kedalam semen, akan tetapi jangka hidup sperma maksimal 24-48 jam. d. Spermatogenesis Tubulus seminiferus mengandung banyak sel epitel germinativum yang berukuran kecil dinamakan spermatogenia, menjadi spermatosit dan membelah diri membentuk 2 spermatosit yang masing-masing mengandung 23 kromosom setelah beberapa minggu menjadi spermatozoa. Spermatid pertama kali dibentuk masih mempunyai sifat umum sel apiteloid kemudian sitoplasma menghilang lalu spermatid memanjang menjadi spermatozoa yang terdiri atas kepala, leher, badan, dan ekor.Setelah pembentukan tubulus seminiferus, sperma msuk ke seminiferus selama 18 jam-10 hari hingga mengalami proses pematangan. Epididimis menyekresi cairan yang mengandung g.hormon, enzim, dan gizi yang sangat penting dalam proses pematangan sperma. Sebagian besar terdapat pada vas deverens dan sebagian kecil di dalam epididimis. e. Penyimpanan Sperma Kedua testis dapat membentuk sperma kurang lebih 120 juta setiap hari. Sejumlah kecil sperma dapat disimpan dalam epididimis, sedangkan sebagian besar sisanya disimpan dalam vas deferens dan ampula vas deferens sehingga dapat mempertahankan fertilitasnya dalam duktus genitalis selama 1 bulan. Dengan aktifitas seksualitas yang tinggi, penyimpanan hanya beberapa hari saja f. Pengaturan spermatogenesis FSH melekat pada sel-sel dalam tubulus seminiferus. Pengikatan ini mengakibatkan sel tumbuh dan menyekresi berbagai unsur spermatogenik. Secara bersamaan testosteron berdifusi ke dalam tubulus dalam ruang interstisial yang mempunyai efek tropik terhadap spermatogenesis. Untuk membangkitkan spermatogenesis dibutuhkan FSH, sedangkan testosteron dibutuhkan agar dapat mempertahankan spermatogenesis untuk waktu yang sama. Pengaturan spermatogenesis: a. FSH merangsang spermatogenesis. b. LH merangsang sekresi testosteron dan mempertahankan spermatogenesis. FSH dan Testosteron bekerja merangsang sel sertoli membentuk senyawa yang diperlukan dalam maturasi sperma. Sekresinya diatur oleh mekanisme umpan balik negatif, yaitu meningkatkan sekresi dan sel serotinin. g. Pengaturan Fungsi Reproduksi. Pengaturan fungsi reproduksi dimulai dari pelepasan hormon gonadotropin (GnRH) oleh hipotalamus lalu merangsang kelenjar hipofisis anterior untuk menyekresi lutein hormon, hormon perangsang lutein hormon (LH), dan Folikel Stimulating Hormon (FSH). Lutein hormon merupakan rangsangan utama untuk sekresi testosteron oleh testis dan folikel stimulating. Hormon yang di sekresi akan merangsang spermatogenesis.Ejakulasi di sertai orgasme merupakan titik kulminasi aksi seksual laki-laki. Semen diejeksikan melalui serangkaian semprotan. 1. Impuls simpatis dari pusat refleks medula spinalis menjalar di sepanjang spinal lumbal (L1 dan L2) menuju urogenital dan menyebabkan kontraksi peristaltik dalam duktus testis epididimis dan duktus deferens. Kontraksi ini menggerakkan sperma di sepanjang saluran. 2. Impuls parasimpatis menjalar pada pusat pudendal dan menyebabkan otot bulbo kavernosum pada dasar penis berkontraksi secara berirama. 3. Kontraksi awal pada vesikel seminalis, prostat, dan kelenjar bulburektalis menyebabkan terjadinya sekresi cairan seminal yang bercampur dengan sperma untuk membuat semen. a.Pengaruh GnRH Meningkatkan Sekresi LH dan FSH Hipotalamus melepaskan Gonadotropin Hormone (GnRH) yang diangkut ke kelenjar hipotalamus anterior untuk merangsang pelepasan LH dan FSH dalam darah porta. Perangsangan hormon ini ditentukan oleh frekuensi dan siklus sekresi dan jumlah GnRH yang dilepas pada setiap silkus. Sekresi LH mengikuti pelepasan GnRH yang dilepas pada setiap siklus. Sekresi LH mengikuti pelepasan GnRH lalu sekresi FSH berubah lebih lambat sebagai respons perubahan jangka panjang GnRH. Pengaruh hormon gonadotropin terhadap LH dan FSH. Hormon ini di sekresi oleh sel-sel yang sama dalam kelenjar hipofisis anterior. LH dan FSH adalah glikoprotein yang berkaitan dengan protein dalam molekul yang sangat bervariasi. Dalam keadaan yang berbeda dapat mengubah aktivitas dasar LH maupun FSH hingga mengeluarkan pengaruhnya pada jaringan di dalam testis melalui aktivitas pengaktifan sistem enzim khusus dalam sel-sel target berikutnya. b.Sekresi Metabolisme dan Sifat Kimia Sekresi androgen dalam tubuh memiliki efek maskulinisasi termasuk testosteron. Aktivitas maskulinisasi dari semua hormon sangat sedikit yaitu kurang dari 5% seluruh aktivitas tubuh pria dewasa. Sifat kimia androgen adalah senyawa streoid untuk testosteron yang dapat dibentuk dari kolesterol langsung dari asetil koenzim A. Setelah tesrosteron di metabolisme dan di sekresi testis, sekitar 97% testosteron akan menjadi lemah ikatanya dengan albumin plasma atau lebih kuat berikatan dengan globulin pengikat hormon kelamin dan bersikulasi dengan darah.Sebagian testosteron yang terikat ke jaringan di ubah dalam sel-sel menjadi dehidrotestosteron dalam organ khusus seperti kelenjar prostat pada pria dewasa dan dalam genitalia eksterna pada janin laki-laki. Pembentukkan estrogen juga terjadi pada pria. Di samping itu, testosteron dan estrogen juga di temukan dalam urine pria. Jumlah estrogen dalam cairan tubulus seminiferus cukup tinggi dan menjalankan perannya dalam spermatogenesis. BAB III PENUTUP A. kesimpulan. Diferensiasi gonad primitif ke testis atau ovarium dalam uterus ditentukan secara genetika pada manusia. Tetapi pembentukan genetalia pria tergantung atas adanya testis fungsional yang bersekresi. Ada bukti bahwa perilaku seks pria dan pola pria bagi sekresi gonadotropin disebabkan oleh kerja hormon pria atas otak dalam perkembangan diri. Setelah kelahiran gonad tetap tenang sampai adolesen. Sewaktu ia diaktivasi oleh gonadotropin dari lobus anterior hypophysis. Hormon yang disekresi oleh gonad pada waktu ini menyebabkan penampilan gambaran khas pria atau wanita dewasa dan mulainya siklus seks dalam wanita. Pada pria, gonad tetap lebih kurang aktif dari mulai pubertas dan seterusnya. Pada wanita fungsi ovarium beregresi setelah siklus seks berhenti (menopause). Fisiologi juga di pengaruhi oleh hormon gonadotropik berasal dari FSH yang merangsang perkembangan folikel graaf dalam ovarium dan pembentukan spermatozoa dalam testis, hormon luteinizing hormone (LH) hormone estrogen progesterone. Serta alat kelamin laki-laki terbagi atas tiga bagian yaitu: kelenjar ( testis, vesika seminalis dan prostat) kelenjar duktuli ( epididymis, duktus seminalis dan uretra) dan bagian penyambung ( skrotum dan penis). B.Saran. Organ reproduksi merupakan kegiatan organ kelamin laki-laki dan perempuan yang khusus yaitu testis menghasilkan spermatozoid ( sel kelamin laki-laki) dan ovarium menghasilkan ovum ( sel kelamin perempuan ), organ reproduksi menentukan perkembangan baik fisik maupun psikis pada masing –masing individu. Yang berperan terhadap kelangsungan mahluk hidup, dengan sistem reproduksi manusia dapat berkembang dan melahirkan keturunan melalui pertemuan antara laki-laki atau betina dengan jantan. Sehingga dalam perkembangan sistem reproduksi seseorang harus memperhatikan asupan makanan atau pengarahan yang tepat agar tidak salah dalam melakukan hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi. DAFTAR PUSTAKA Ganong , (2007), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC. Mochtar, (2004)Anatomi dan Fisiologi. Jakarta, EGC. Purnomo . (2003). Dasar-dasar fisiologi. Jakarta: Infomedika. Syaifuddin, (2006) Anatomi dan Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta :EGC. Syaifuddin,(2007), Fisiologi Manusia. Jakarta:EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar