Senin, 22 Juli 2013

askep trauma mata



Trauma mata adalah tindakan sengaja maupun tidak yang menimbulkan perlukaan mata dan merupakan kasus gawat darurat mata.Perlukaan yang ditimbulkan dapat ringan sampai berat atau menimbulkan kebutaan bahkan kehilangan mata(Sidarta, 2005).
Trauma mata adalah kondisi mata yang mengalami trauma (rudapaksa) baik oleh zat kimia maupun oleh benda keras dan tajam (Anas, 2010).
Klasifikasi traumamata :
1.    Trauma Mekanik
a.    Trauma Tumpul:trauma pada mata akibat benturan mata dengan benda yang relatif besar, tumpul, keras maupun tidak keras. Taruma tumpul dapat menyebabkan cedera perforasi dan non perforasi. Trauma tumpul pada mata dapat mengenai organ eksterna (orbita dan palpebra) atau interna (konjungtiva, kornea, iris atau badan silier, lensa, korpus vitreus, retina dan nervus optikus (N.II).
b.    Trauma Tajam: trauma pada mata akibat benda tajam atau benda asing yang masuk ke mata.
2.    Trauma Kimia/Khemis
a.    Trauma Kimia Asam: trauma pada mata akibat substansi yang bersifat asam.
b.    Trauma Kimia Basa: trauma pada mata akibat substansi yang bersifat basa.
3.    Trauma Fisis
a.    Trauma termal: misalnya panas api, listrik, sinar las, sinar matahari.
b.    Trauma bahan radioaktif: misalnya sinar radiasi bagi pekerja radiologi.

A.    ETIOLOGI
Trauma mata dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya :
1.    Trauma tumpul disebabkan akibat benturan mata dengan benda yang relatif besar, tumpul, keras maupun tidak keras misalnya terpukul, kena bola tenis, atau shutlecock, membuka tutup botol tidak dengan alat, ketapel.
2.    Trauma tajam (penetrating injuries) disebabkan benda tajam atau benda asing yang masuk ke mata seperti kaca, logam, atau partikel kayu berkecepatan tinggi, percikan proses pengelasan, dan peluru.
3.    Trauma Khemis disebabkan akibat substansi yang bersifat asam dan alkali yang masuk ke mata.
a.    Trauma kimia asam, misalnya cuka, bahan asam dilaboratorium (asam sulfat, asam hidroklorida, asam nitrat, asam asetat, asam kromat, asam hidroflorida).
b.    Trauma kimia basa, misalnya sabun cuci, shampo, bahan pembersih lantai, kapur, lem perekat.

B.     PATOFISOLOGI
Kerusakan akibat trauma tumpul dapat mengenai kelopak mata dan struktur mata bagian luar sehingga mengakibatkan hematoma kelopak. Jika trauma menembus ke bagian konjugtiva, maka kemungkinannya akan terjadi hematoma subkonjugtiva akibat pecahnya pembuluh darah sebagai akibat terkena hantaman benda tumpul dan keras.
Kerusakan yang diakibatkan trauma tajam/tembus akan lebih parah lagi karena melibatkan kerusakan hingga bagian dalam struktur dan jaringan mata. Kondisi ini biasanya sampai merusak fungsi mata dan kerusakannya permanen (dapat disembuhkan hanya melalui operasi). Gangguan mata akibat trauma tajam juga beragam, tergantung pada organ mata yang terkena dan seberapa besar kerusakannya.
Sedangkan pada trauma khemis/ kimia, jika traumanya akibat asam biasanya hanya akan menyebabkan kerusakan pada bagian permukaan/superfisial saja karena terjadi pengendapan dan penggumpalan bahan protein permukaan. Namun pada trauma akibat basa/alkali, kerusakan yang diakibatkan bisa gawat karena alkali akan menembus kornea dengan cepat lalu ke bilik mata depan sampai pada jaringan retina. Bahan alkali  dapat merusak kornea dan retina karena bahan alkali bersifat mengkoagulasi sel sehingga akan menghancurkan jaringan kolagen kornea sehingga memperparah kerusakan kornea hingga ke retina.
Pada trauma fisis, kerusakan yang ditimbulkan hanya pada permukaan karena bahan yang merusak hanya mengenai permukaan dan tidak sampai tembus dan juga adanya mekanisme proteksi pada mata. Namun, walaupun hanya mengenai bagian permukaan, trauma fisis akan tetap menyebabkan kerusakan pada jaringan walaupun tidak bersifat permanen.

C.     MANIFESTASI KLINIS
Adapun manifestasi klinisnya adalah sebagai berikut:
1.      Trauma Tumpul
a.       Rongga Orbita: suatu rongga yang terdiri dari bola mata dan 7 ruas tulang yang membentuk dinding orbita (lakrimal, ethmoid, sfenoid, frontal, maksila, platinum dan zigomatikus.Jika pada trauma mengenai rongga orbita maka akan terjadi fraktur orbita, kebutaan (jika mengenai saraf), perdarahan didalam rongga orbita, gangguan gerakan bola mata.
b.      Palpebra: Kelopak atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata, serta mengeluarkan sekresi kelenjarnya yang membentuk film air mata di depan komea. Palpebra merupakan alat menutup mata yang berguna untuk melindungi bola mata terhadap trauma, trauma sinar dan pengeringan bola mata. Kelopak mempunyai lapis kulit yang tipis pada bagian depan sedang di bagian belakang ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva tarsal. Gangguan penutupan kelopak (lagoftalmos) akan mengakibatkan keringnya permukaan mata sehingga terjadi keratitis.
Jika pada palpebra terjadi trauma tumpul maka akan terjadi hematom, edema palpebra yang dapat menyebabkan kelopak mata tidak dapat membuka dengan sempurna (ptosis), kelumpuhan kelopak mata (lagoftalmos/tidak dapat menutup secara sempurna).
c.       Konjungtiva: Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian belakang. Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel Goblet.Musin berfungsi membasahi bola mata terutama kornea.
Edema, robekan pembuluh darah konjungtiva (perdarahan subkonjungtiva) adalah tanda dan gejala yang dapat terjadi jika konjungtiva terkena trauma.
d.      Kornea: Kornea (Latin cornum - seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan dan terdiri dari beberapa lapisan. Dipersarafi oleh banyak saraf.
Edema kornea, penglihatan kabur, kornea keruh, erosi/abrasi, laserasi kornea tanpa disertai tembusnya kornea dengan keluhan nyeri yang sangat, mata berair, fotofobi adalah tanda dan gejala yang dapat muncul akibat trauma pada kornea.
e.       Iris atau badan silier: merupakan bagian dari uvea. Pendarahan uvea dibedakan antara bagian anterior yang diperdarahi oleh 2 buah arteri siliar posterior longus yang masuk menembus sklera di temporal dan nasal dekat tempat masuk saraf optik dan 7 buah arteri siliar anterior, yang terdapat 2 pada setiap otot superior, medial inferior, satu pada otot rektus lateral. Arteri siliar anterior dan posterior ini bergabung menjadi satu membentuk arteri sirkularis mayor pada badan siliar.Uvae posterior mendapat perdarahan dari 15 - 20 buah arteri siliar posterior brevis yang menembus sklera di sekitar tempat masuk saraf optik.
Hifema (perdarahan bilik mata depan), iridodialisis (iris terlepas dari insersinya) merupakan tanda patologik jika trauma mengenai iris.
f.       Lensa: Lensa merupakan badan yang bening. Secara fisiologik lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu: Kenyal atau lentur karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi untuk menjadi cembung, jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan, terletak di tempatnya.
Secara patologik jika lensa terkena trauma akan terjadi subluksasi lensa mata (perpindahan tempat).
g.      Korpus vitreus: perdarahan korpus vitreus.
h.      Retina: Retina adalah suatu membran yang tipis dan bening, terdiri atas penyebaran daripada serabut-serabut saraf optik. Letaknya antara badan kaca dan koroid. Letaknya antara badan kaca dan koroid.1,2 Bagian anterior berakhir pada ora serata. Dibagian retina yang letaknya sesuai dengan sumbu penglihatan terdapat makula lutea (bintik kuning) kira-kira ber¬diameter 1 - 2 mm yang berperan penting untuk tajam penglihatan.Ditengah makula lutea terdapat bercak mengkilat yang merupakan reflek fovea.
Secara patologik jika retina terkena trauma akan terjadi edema makula retina, ablasio retina, fotopsia, lapang pandang terganggu dan penurunan tekanan bola mata.
i.        Nervus optikus: N.II terlepas atau putus (avulsio) sehingga menimbulkan kebutaan
2.      Trauma Tajam
a.       Orbita: kebutaan, proptosis (akibat perdarahan intraorbital), perubahan posisi bola mata.
b.      Palpebra: ptosis yang permanen (jika mengenai levator apoeurosis).
c.       Saluran lakrimal: gangguan sistem eksresi air mata.
d.      Konjungtiva: robekan konjungtiva, perdarahan subkonjungtiva.
e.       Sklera: pada luka yang agak besar akan terlihat jaringan uvea (iris, badan silier dan koroid yang berwarna gelap).
f.       Kornea, iris, badan silier, lensa, korpus vitreus : laserasi kornea yan g disertai penetrasi kornea, prolaps jaringan iris, penurunan TIO, adanya luka pada kornea, edema.
g.      Koroid dan kornea: luka perforasi cukup luas pada sklera, perdarahan korpus vitreus dan ablasi retina.
3.      Trauma Kimia
a.       Asam.
Kekeruhan pada kornea akibat terjadi koagulasi protein epitel kornea.
b.      Basa/Alkali.
1)      Kebutaan.
2)      Penggumpalan sel kornea atau keratosis.
3)      Edema kornea.
4)      Ulkus kornea.
5)      Tekanan intra ocular akan meninggi.
6)      Hipotoni akan terjadi bila terjadi kerusakan pada badan siliar.
7)      Membentuk jaringan parut pada kelopak.
8)      Mata menjadi kering karena terjadinya pembentukan jaringan parut pada kelenjar asesoris air mata.
9)      Pergerakan mata menjadi terbatas akibat terjadi simblefaron pada konjungtiva bulbi yang akan menarik bola mata.
10)  Lensa keruh diakibatkan kerusakan kapsul lensa.

D.    PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.      Pemeriksaan Fisik: dimulai dengan pengukuran dan pencatatan ketajaman penglihatan menggunakankartu Snellen dan indikator pengukur ketajaman penglihatan lain seperti cahaya dan gerak anggota tubuh.
2.      Slit lamp : untuk melihat kedalaman cedera di segmen anterior bola mata.
3.      Tes fluoresin : digunakan untuk mewarnai kornea, sehingga cedera kelihatan jelas.
4.      Tonometri : untuk mengetahui tekakan bola mata.
5.      Pemeriksaan fundus yang didilatasikan dengan oftalmoskop indirek : untuk mengetahui adanya benda asing intraokuler.
6.      Tes Seidel : untuk mengetahui adanya cairan yang keluar dari mata. Tes ini dilakukan dengan cara memberi anastesi pada mata yaang akan diperiksa, kemudian diuji pada strip fluorescein steril. Penguji menggunakan slit lamp dengan filter kobalt biru, sehingga akan terlihat perubahan warna strip akibat perubahan pH bila ada pengeluaran cairan mata.
7.      Pemeriksaan CT-Scan dan USG B-scan : digunakan untuk mengetahui posisi benda asing.
8.      Electroretinography (ERG) : untuk mengetahui ada tidaknya degenerasi pada retina.
9.      Pengukuran tekanan IOL dengan tonography: mengkaji nilai normal tekanan bola mata (normal 12-25 mmHg).
10.  Pengkajian dengan menggunakan optalmoskop: mengkaji struktur internal dari okuler, papiledema, retina hemoragi.
11.  Pemeriksaan Radiologi : pemeriksaan radiologi pada trauma mata sangat membantu dalam menegakkan diagnosa, terutama bila ada benda asing.
12.  Kertas Lakmus : pada pemeriksaan ini sangat membantu dalam menegakkan diagnosa trauma asam atau basa.
E.     PENATALAKSANAAN TERAPI
Pada kasus trauma matapenatalaksanaan terapi tidak ditentukan, tapi dilaksanakan berdasarkan kondisi trauma yang dialami pasien dan juga berdasarkan berat ringannya gejala yang dialami.
Namun, berikut ini adalah beberapa penanganan yang mungkin dapat digunakan sebagai pada kasus trauma mata akibat trauma mekanik, antara lain :
1.      Penatalaksanaan sebelum tiba di RS, antara lain :
a.       Mata tidak boleh dibebat dengan tekanandan diberikan perlindungan tanpa kontak.
b.      Tidak boleh dilakukan manipulasi yangberlebihan dan penekanan bola mata.
c.       Benda asing tidak boleh dikeluarkantanpa pemeriksaan lanjutan.
d.      Sebaiknya pasien di puasakan untukmengantisipasi tindakan operasi.
2.      Penatalaksanaan di RS, antara lain :
a.       Pemberian antibiotik spektrum luas
b.      Pemberian obat sedasi, antiemetik, dananalgetik sesuai indikasi.
c.       Pemberian toksoid tetanus sesuai indikasi.
d.      Pengangkatan benda asing di kornea,konjungtiva atau intraokuler.
e.       Tindakan pembedahan /penjahitan sesuaidengan kausa dan jenis cedera.
f.       Sisa-sisa lensa dan darah dikeluarkandengan aspirasi dan irigasi mekanis atauvitrektomi.
Sedangkan pada kerusakan yang diakibatkan oleh trauma kimia, penatalaksanaan yang harus segera dialkukan adalah irigasi daerah yang terkena trauma kimia untuk menghilangkan dan melarutkan bahan penyebab trauma. Penanganan sebelum dibawa ke RS dapat dilakukan dengan cara mata diguyur dengan menggunakan air bersih setelah terkena trauma untuk meghilangkan bahan penyebab trauma, setelah itu langsung dibawa ke RS untuk penanganan selanjutnya.
F.      WEB OF CAUTIONS (WOC)
 



















Proses penghantaran dan penerimaan impuls penglihatan terganggu
 
Peningkatan TIO dan reaksi inflamasi
 
                              


 











KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A.    PENGKAJIAN
1.      Identitas pasien meliputi nama, usia (dapat terjadi pada semua usia), pekerjaan ,jenis kelamin (kejadian lebih banyak pada laki-laki daripada wanita).
2.      Keluhan utama
Klien biasanya mengeluh adanya penurunan penglihatan, nyeri pada mata,  danketerbatasan gerak mata.
3.      Riwayat penyakit sebelumnya
Riwayat penyakit  yang mungkin diderita klien seperti DM yang dapat menyebabkan infeksi yang pada mata sulit sembuh.
4.      Riwayat penyakit sekarang
Yang perlu dikaji adalah jenis trauma, bahan yang menyebabkan trauma, lama terkena trauma, dan tindakan apa yang sudah dilakukan pada saat trauma terjadi dan sebelum dibawa ke RS.
5.      Riwayat psikososial
Pada umumnya klien mengalami berbagai derajat ansietas, gangguan konsep diri dan ketakutan akan terjadinya kecacatan mata, gangguan penglihatan yang menetap atau mungkin kebutaan. Klien juga dapat mengalami gangguan interaksi sosial.
6.      Pemeriksaan fisik
a.       Tanda-tanda Vital (nadi, suhu, tekanan darah, dan pernapasan)
b.      Pemeriksaan persistem
1)      B1(Breath) :disertai gangguan pernapasan jika trauma menyebar ke mukosa hidung.
2)      B2 (Blood) :perdarahan jika trauma melibatkan organ tubuh lain selain struktur mata.
3)      B3 (Brain) :pasien merasa pusing atau nyeri karena adanya peningkatan TIO (tekanan intraokular).
4)      B4 (Bladder) :kebutuhan eliminasi dalam batas normal.
5)      B5 (Bowel) :idak ditemukan perubahan dalam sistem gastrointestinal.
6)      B6 (Bone) :ekstremitas atas dan bawah tidak ditemukan adanya kelainan.
c.       Pemeriksaan khusus pada mata :
1)      Visus (menurun atau tidak ada)
2)      Gerakan bola mata ( terjadi pembatasan atau hilangnya sebagian pergerakan bola mata)
3)      Adanya perdarahan, perubahan struktur konjugtiva, warna, dan memar.
4)      Kerusakan tulang orbita, krepitasi tulang orbita.
5)      Pelebaran pembuluh darah perikornea.
6)      Hifema.
7)      Robek kornea
8)      Perdarahan dari orbita.
9)      Blefarospasme.
10)  Pupul tidak beraksi terhadap cahaya, struktur pupil robek.
11)  Tes fluoresens positif.
12)  Edema kornea.
13)  Nekrosis konjugtiva/sklera.
14)  Katarak.
d.      Data Penunjang Lain
1)      Kartu snellen: pemeriksaan penglihatan dan penglihatan sentral mungkin mengalami penurunan akibat dari kerusakan kornea, vitreous atau kerusakan pada sistem suplai untuk retina.
2)      Luas lapang pandang: mengalami penurunan akibat dari tumor/ massa, trauma, arteri cerebral yang patologis atau karena adanya kerusakan jaringan pembuluh darah akibat trauma.
3)      Pengukuran tekanan IOL dengan tonography: mengkaji nilai normal tekanan bola mata (normal 12-25 mmHg).
4)      Pengkajian dengan menggunakan optalmoskop: mengkaji struktur internal dari okuler, papiledema, retina hemoragi.

B.     DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1.      Nyeri akut berhubungan dengan imflamasi pada kornea atau peningkatan tekanan intraokular dan kerusakan jaringan mata.
2.      Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan sekunder terhadap interupsi permukaan tubuh.
3.      Gangguan Sensori Perseptual : Penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori /status organ indera. Lingkungan secara terapetik dibatasi.
4.      Ansietas yang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis.
C.     INTERVENSI KEPERAWATAN
1.      Diagnosa Keperawatan : Nyeri akut berhubungan dengan imflamasi pada kornea atau peningkatan tekanan intraokular dan kerusakan jaringan mata.
Tujuan : nyeri berkurang, hilang atau terkontrol.
Kriteria Hasil :
a.       Klien akanmelaporkan penurunan nyeri progresif dan penghilangan nyeri setelah intervensi.
b.      Klien tidak gelisah.
c.       Klien mampu melakukan tindakan mengurangi nyeri.
Intervensi dan Rasional :
a.       Kaji derajat nyeri setiap hari atau sesering mungkin jika diperlukan
Rasional : nyeri trauma umumnya menjadi keluhan utama terutama nyeri akibat kerusakan kornea.
b.      Terangkan penyebab nyeri dan faktor/tindakan yang dapat memprovokasi nyeri.
Rasional : nyeri disebabkan oleh efek kimiawi atau fisik benda dan nyeri dapat meningkat akibat provokasi: menekan mata terlalu kuat; gerakan mata tiba-tiba.
c.       Lakukan kompres pada jaringan sekitar mata.
Rasional : kompres dingin mungkin diperlukan pada trauma fisik akut dan jika kondisi stabil (agak lama), dapat digunakan teknik kompres hangat (jika tidak ada perdarahan).
d.      Kolaborasi pemberian analgesik.
Rasional : analgesik berfungsi untuk menigkatkan ambang nyeri.
e.       Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi pada klien.
Rasional : mengurangi nyeri dengan manipulasi psikologis.
2.      Diagnosa Keperawatan : Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan peningkatan kerentanan sekunder terhadap interupsi permukaan tubuh.
Tujuan : tidak terjadi infeksi.
Kriteria Hasil :
a.       Klien memperlihatkan perilaku penjagaan daerah luka.
b.      Tidak terdapat tanda infeksi selama fase perawatan.
Intervensi dan Rasional :
a.       Kali perilaku sehari-hari yang memungkinkan timbulnya infeksi mata.
Rasional : berbagai tindakan mungkin tidak disadari oleh klien sebagai hal yang dapat menyebabkan infeksi, seperti menggosok atau memegang mata.
b.      Terangkan berbagai perilaku yang dapat menyebabkan infeksi.
Rasional : perilaku yang dapat menyebabkan infeksi dapat diidentifikasi dari perilaku klien yang telah klien lakukan atau belum dilakukan oleh klien.
c.       Ajarkan perilaku yang baik untuk mengurangi resiko infeksi.
Rasional : menigkatkan pemahaman klien akan pentingnya perilaku mencegah infeksi.
d.      Ajarkan berbagai tanda infeksi.
Meningkatkan pengetahuan klien tentang tanda infeksi mata yang mungkin dapat terjadi sebagai akibat komplikasi dari penyakit sekarang.
e.       Anjurkan klien untuk melaporkan sesegera mungkin apabila mengenali tanda infeksi.
Rasional : menigkatkan rasa percaya dan kerjasama perawat-klien.
3.      Diagnosa Keperawatan : Gangguan Sensori Perseptual : Penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori /status organ indera. Lingkungan secara terapetik dibatasi.
Tujuan : klien melaporkan kemampuan yang lebih baik untuk proses rangsang penglihatan dan mengkomunikasikan perubahan visual.
Kriteria Hasil :
a.       Klien mengidentifikasi faktor-faktor yang memperngaruhi fungsi penglihatan.
b.      Klien mengidentifikasi dan menunjukan pola-pola alternatif untuk menigkatkan penerimaan rangsang penglihatan.
Intervensi dan Rasional :
a.       Kaji ketajaman penglihatan klien.
Rasional : mengidentifikasi kemampuan visual klien.
b.      Dekati klien dari sisi yang sehat.
Rasional : memberikan rangsang sensori, mengurangi rasa isolasi/terasing.
c.       Sesuaikan lingkungan untuk optimalisasi penglihatan :
1)      Orientasikan klien terhadap ruang rawat
2)      Letakan alat yang sering digunakan di dekat klien atau pada sisi mata yang lebih sehat.
3)      Berikan pencahayaan cukup.
4)      Hindari cahaya menyilaukan.
Rasional : meningkatkan kemapuan persepsi sensori.
d.      Anjurkan penggunaan alternatif rangsang lingkungan yang dapat diterima : auditorik, taktil.
Rasional : menigkatkan kemampuan respons terhadap stimulus lingkungan
4.      Diagnosa Keperawatan : Ansietas yang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis.
Tujuan : tidak terjadi kecemasan.
Kriteria Hasil :
a.       Klien mengungkapkan kecemasan berkurang atau hilang.
b.      Klien berpartisipasi dalam kegiatan pengobatan.
Intervensi dan Rasional :
a.       Kaji derajat kecemasan, faktor yang menyebabkan kecemasan, tingkat pengetahuan dan ketakutan klien akan penyakit.
Rasional : umumnya faktor yang menyebabkan kecemasan adalah kurangnya pengetahuan dan ancaman aktual terhadap diri. Pada klien dengan trauma mata rasa nyeri dan penurunan lapang penglihatan menimbulkan ketakutan utama.
b.      Orientasikan tentang penyakit yang dialami klien, prognosis dan tahap perawatan yang akan dijalani klien.
Rasional : menigkatkatan pemahaman klien akan penyakit. Jangan memberikan keamanan palsu seperti mengatakan penglihatan akan segera pulih atau nyeri akan segera hilang. Gambarkan secara objektif tahap pengobatan, harapan proses pengobatan, dan orientasi pengobatan masa berikutnya.
c.       Beri kesempatan kepada klien untuk bertanya tentang penyakitnya.
Rasional : menimbulkan rasa aman dan perhatian bagi klien.
d.      Beri dukungan psikologis.
Rasional : dukungan psikologis dapat berupa penguatan tentang kondisi klien, keaktifan klien dalam melibatkan diri dalam perawatan maupun mengorientasikan bagaimana kondisi penyakit yang sama menimpa klien yang lain.
e.       Terangkan setiap prosedur yang dilakukan, jelaskan tahap perawatan yang akan dijalani.
Rasional : mengurangi rasa ketidaktahuan dan kecemasan yang terjadi.


BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Trauma mata adalah tindakan sengaja maupun tidak yang menimbulkan perlukaan mata dan merupakan kasus gawat darurat mata.Perlukaan yang ditimbulkan dapat ringan sampai berat atau menimbulkan kebutaan bahkan kehilangan mata(Sidarta, 2005).
Trauma mata adalah kondisi mata yang mengalami trauma (rudapaksa) baik oleh zat kimia maupun oleh benda keras dan tajam (Anas, 2010).
Trauma mata dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya :
1.      Trauma tumpul disebabkan akibat benturan mata dengan benda yang relatif besar, tumpul, keras maupun tidak keras misalnya terpukul, kena bola tenis, atau shutlecock, membuka tutup botol tidak dengan alat, ketapel.
2.      Trauma tajam ( Penetrating Injuries) disebabkan benda tajam atau benda asing yang masuk ke mata seperti kaca, logam, atau partikel kayu berkecepatan tinggi, percikan proses pengelasan, dan peluru.
3.      Trauma Khemis disebabkan akibat substansi yang bersifat asam dan alkali yang masuk ke mata.














DAFTAR PUSTAKA

Tamsuri, Anas. (2010). Klien Gangguan Mata Dan Penglihatan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Darling, V.H. & Thorpe, M.R. (1996). Perawatan Mata. Yogyakarta: Yayasan Essentia Media.
Ilyas, Sidarta. (2000). Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: FKUI Jakarta.
Wijana, Nana. (1983). Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: FKUI Jakarta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar