Senin, 22 Juli 2013

askep Glaucoma














A.    Pengertian
Glaucoma adalah suatu penyakit dari saraf utama penglihatan, disebut saraf optik (optic nerve). Saraf optik menerima cahaya dari retina dan memancarkan implus-implus ke otak yang kita merasa sebagai penglihatan. Glaucoma digolongkan oleh suatu pola tertentu dari kerusakan progresif pada saraf optik yang umumnya dimulai dengan kehilangan penglihatan samping (peripheral vision) yang hampir tidak kentara.
Glaukoma adalah salah satu jenis penyakit mata dengan gejala yang tidak langsung, yang secara bertahap menyebabkan penglihatan pandangan mata semakin lama akan semakin berkurang sehingga akhirnya mata akan menjadi buta. Hal ini disebabkan karena saluran cairan yang keluar dari bola mata terhambat sehingga bola mata akan membesar dan bola mata akan menekan saraf mata yang berada di belakang bola mata yang akhirnya saraf mata tidak mendapatkan aliran darah sehingga saraf mata akan mati.
B.     Klasifikasi
Glaucoma diklasifikasikan menjadi 4, yaitu:
1.      Primary Open-Angle Glaucoma (GLAUKOMA Sudut-Terbuka Primer)
Glaukoma Sudut-Terbuka Primer adalah tipe yang yang paling umum dijumpai. Glaukoma jenis ini bersifat turunan, sehingga risiko tinggi bila ada riwayat dalam keluarga. Biasanya terjadi pada usia dewasa dan berkembang perlahan-lahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Seringkali tidak ada gejala sampai terjadi kerusakan berat dari syaraf optik dan penglihatan terpengaruh secara permanen. Pemeriksaan mata teratur sangatlah penting untuk deteksi dan penanganan dini.
Glaukoma Sudut-Terbuka Primer biasanya membutuhkan pengobatan seumur hidup untuk menurunkan tekanan dalam mata dan mencegah kerusakan lebih lanjut.
2.      Acute Angle-Closure Glaucoma (GLAUKOMA Sudut-Tertutup Akut)
Glaukoma Sudut-Tertutup Akut lebih sering ditemukan karena keluhannya yang mengganggu. Gejalanya adalah sakit mata hebat, pandangan kabur dan terlihat warna-warna di sekeliling cahaya. Beberapa pasien bahkan mual dan muntah-muntah. Glaukoma Sudut-Tertutup Akut termasuk yang sangat serius dan dapat mengakibatkan kebutaan dalam waktu yang singkat. Bila Anda merasakan gejala-gejala tersebut segera hubungi dokter spesialis mata Anda.
3.      Secondary GLAUCOMA (GLAUKOMA Sekunder)
Glaukoma Sekunder disebabkan oleh kondisi lain seperti katarak, diabetes, trauma, arthritis maupun operasi mata sebelumnya. Obat tetes mata atau tablet yang mengandung steroid juga dapat meningkatkan tekanan pada mata. Karena itu tekanan pada mata harus diukur teratur bila sedang menggunakan obat-obatan tersebut
4.      Congenital GLAUCOMA (GLAUKOMA Kongenital)
Glaukoma Kongenital ditemukan pada saat kelahiran atau segera setelah kelahiran, biasanya disebabkan oleh sistem saluran pembuangan cairan di dalam mata tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya tekanan bola mata meningkat terus dan menyebabkan pembesaran mata bayi, bagian depan mata berair dan berkabut dan peka terhadap cahaya.
C.     Etiologi
Peningkatan tekanan didalam mata adalah faktor utama yang menjurus ke kerusakan glaucoma pada saraf optik. Saraf optik yang berlokasi dibelakang mata adalah saraf penglihatan utama untuk mata. Saraf ini memancarkan balik gambar-gambar yang kita lihat ke otak unruk di interprestasi. Mata adalah kokoh dan bulat seperti bola basket. Ketika tekanan terlalu rendah, mata menjadi lunak, dimana suatu tekanan terlalu tinggi menyebabkan mata menjadi lebih keras.
Beberapa etiologi berdasarkan klasifikasinya, yaitu:
1. Primer, Terdiri dari :
a. Akut
         Dapat disebabkan karena trauma.
b. Kronik
    Dapat disebabkan karena keturunan dalam keluarga seperti :
1)        Diabetes mellitus
2)        Arterisklerosis
3)        Pemakaian kortikosteroid jangka panjang
4)        Miopia tinggi dan progresif
Dari etiologi diatas dapat menyebabkan sudut bilik mata yang sempit.

2. Sekunder, Disebabkan penyakit mata lain seperti :
a.    Katarak
b.    Perubahan lensa
c.    Kelainan uvea
d.   Pembedahan
Faktor-faktor risiko utama Glaucoma, yaitu:
1.    Umur diatas 45 tahun,
2.    Sejarah glaukoma keluarga,
3.    Keturunan ras hitam
4.    Diabetes
5.    trauma
pada lapang pandang.
D.    Manifestasi klinis
1. Glaukoma primer
a. Glaukoma sudut terbuka
1)        Kerusakan visus yang serius
2)        Lapang pandang mengecil dengan macam-macam skotoma yang khas
3)        Perjalanan penyakit progresif lambat.
b. Glaukoma sudut tertutup
    1) Nyeri hebat didalam dan sekitar mata
    2) Timbulnya halo disekitar cahaya
    3) Pandangan kabur
    4) Sakit kepala
    5) Mual, muntah
    6) Kedinginan
7)  Demam bahkan perasaan takut mati mirip serangan angina, yang dapat sedemikian   kuatnya sehingga keluhan mata (gangguan penglihatan, fotofobia dan lakrimasi) tidak begitu dirasakan oleh klien.
2.  Glaukoma sekunder
a. Pembesaran bola mata
b. Gangguan lapang pandang
c.  Nyeri didalam mata
3.  Glaukoma kongenital
     Gangguan penglihatan
E.     Patofisiologi
Tekanan Intra Okuler ditentukan oleh kecepatan produksi akues humor dan aliran keluar akues humor dari mata. TIO normal 10 – 21 mmHg dan dipertahankan selama terdapat keseimbangan antara produksi dan aliran akueos humor. Akueos humor di produksi didalam badan silier dan mengalir ke luar melalui kanal schlemm ke dalam sistem vena. Ketidakseimbangan dapat terjadi akibat produksi berlebih badan silier atau oleh peningkatan hambatan abnormal terhadap aliran keluar akueos melalui camera oculi anterior (COA). Peningkatan tekanan intraokuler > 23 mmHg memerlukan evaluasi yang seksama. Iskemia menyebabkan struktur ini kehilangan fungsinya secara bertahap. Kerusakan jaringan biasanya dimulai dari perifer dan bergerak menuju fovea sentralis. Kerusakan visus dan kerusakan saraf optik dan retina adalah ireversibel dan hal ini bersifat permanen tanpa penangan, glaukoma dapat menyebabkan kebutaan. Hilangnya penglihatan ditandai dengan adanya titik buta lapang pandang.
F.      Pemeriksaan diagnostik
1.    Tonometri
2.    Pemeriksaan okular
3.    Ganioskopi (BMD)
4.    Uji profokasi:
a)    Uji kamar gelap
Klien duduk 1jam, tidak tidur jika TIO meningkatkan 8mmHg : hambatan aliran jika pupil dilatasi.
b)   Uji posisi tengkurap
Jika TIO meningkat 8-10 mmHg GS tertutup, pastikan dengan ganioskopi.
G.    Penatalaksanaan
1.    Glaukoma sudut terbuka/ simplek
a.    Obat-obat miotik
Golongan kolinergik (pilokarpin 1-4% 5 kali sehari) karbakol 0,75-3%
Golongan antikolineoterase (demekarium bromid, humorsal 0,25%) pilokarpin 0,25.
b.    Obat-obatan penghambat sekresi aqhioshumor (adrenergik)
Timolol (tetes 0,25% dan 0,5% 2x sehari)
Epinerpin 0,5-2% 1-2x sehari
c.    Carbomican hidrase inhibitor
Asetazolamid (diamok 125-250 mg 4x sehari)
Diklorfenamid (metazolamid).
d.   Trabekuloplatilaser dan iridektomi
e.    Tindakan bedah trabekulektomi
2.    Glaukoma sudut tertutup/ akut
a.    Bahan hiperosmotik
Gliserin (gliserol) pemakaian obat 1cc/kg BB. Dalam larutan 50% air jeruk.
Maniton 20% IV, 1-2 gram/Kg BB diberikan 60 tetes per menit.
b.    Miotikum pilokarpin 2-4% 1 tetes 3x5 menit kemudian 1 tetes, 30 menit/2jam. Selanjutnya 1 tetes per jam sampai operasi.
c.    Karbonikan hidrase inhibitor
Asetasolamit langsung 500mg / oral (2 tablet) lalu tiap 4 jam 250mg.
d.   Operasi filtrasi


Woc
Trauma , katarak , miopi tinggi ( rabun jauh parah ) DM
Infeksi ruang mata anterior dan posterior
Humor aques dihasilkan dalam posterior
             masuk
Anterior ( melalui saluran schlemm)
         Bila
Terjadi sumbatan pada saluran schlemm
                                                           Tekanan intraokuler
     Neurosensoris                      terdorongnya saraf optik dan retina              lapang pandang             
Penekanan pd saraf mata               aliran implus saraf menurun                    MK: Resiko cidera      
        MK: Nyeri                                  sel – sel saraf mati
                                                                             Terjadi
                                             Bintik buta pada lapang pandang mata

                                                                   Kebutaan

MK : perubahan persepsi sensori        ganguan citra diri           MK : intoleransi aktifitas

MK : harga diri rendah ( HDR )



ASUHAN KEPERAWATAN
Kasus
Seorang ibu usia 40 th dating ke poli penyakit dengan keluhan nyeri mata,mata berkunang-kunang pada saat nonton televise terlalu lama ,menurut tuan K nyeri yang di rasakan sering kali pada daerah mata.riwayat penyakit dahulu pasien mengalami trauma mata , miopi, tinggi, DM, katarak dan arteroklorosis sebelumnya pasien menggunakan anti histamine.dari pemeriksaan fisik pasien mengalami penglihatan kabur.
A.  Penkajian
1.        Anamnesa
Indetitas pasien :
Nama                                : Ny. K
Umur                                : 40 tahun
Jenis                                 : perempuan
Agama alamat      : islam
No .RM                :jl. Ayani no.02 nganjuk
1.    Keluhan utama
Pasien mengeluh nyeri mata dan mata berkunag – kunang .
2.    Riwayat penyakit sekarang
Terdapat nyeri pada mata dan mata berkunag – kunang , pada saat terlalu lama nonton televisi.
3.    Riwayat penyakit dahulu
Pasie pernah terkena trauma mata, miopi, tinggi, DM, katarak dan arteroklorosis
4.    Riwayat keluarga 
Apakah ada dari riwayat keluarga menderita penyakit lain seperti : katarak , miopi tinggin dll
2.        Pemeriksaan Fisik
a.    Neurosensori
1)        Gangguan penglihatan (kabur/ tidak jelas), sinar terang dapat menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/ merasa diruang gelap (katarak), tampak lingkaran cahaya/ pelangi sekitar sinar, kehilangan penglihatan perifer, fotfobia (galukoma akut) bahan kaca mata/ pengobatan tidak memperbaiki penglihatan.
2)        Tanda : pupil menyempit dan merah/mata keras dengan kornea berwarna, peningkatan air mata.
3)         Pemeriksaan fisik dilakukan dengan menggunakan oftalmaskop untuk mengetahui adanya cupping dan atrofi diskus optikus. Diskus optikus menjadi lebih luas dan dalampada glaukoma akut primer, karena anterior dangkal, Aqueus humor keruh dan pembuluh darah menjalar keluar dari iris.
4)        Pemeriksaan lapang pandang perifer, pada keadaan akut lapang pandang cepat menurun secara signifikan dan keadaan kronik akan menurun secara bertahap.
5)        Pemeriksaan melalui inspeksi, untuk mengetahui adanya inflamasi mata, sklera kemerahan, kornea keruh, dilatasi pupil, sedang yang gagal bereaksi terhadap cahaya (Indriana N. Istiqomah,2004)
b.    Nyeri/ kenyamanan
1)        Ketidaknyamanan ringan/ mata berair (glaukoma kronis)
2)        Nyeri tiba- tiba / berat menetap atau tekanan pada dan sekitar mata, sakit kepala (glaukoma akut)


3.        Pemeriksaan diagnostik
a.       Kartu snellen / mesin telebinoklear
Digunakan untuk mengetahui ketajaman mata dan sentral penglihatan
b.      Lapang penglihatan
Terjadi penurunan disebabkan oleh CSV, masa tumor pada hipofisis / otak, karotis / patofisiologis, arteri serebral atau glaukoma.
c.       Pengukuran tonografi
Mengkaji intraokuler (TIO) (normal 12 – 25 mmHg)
d.      Pengukuran gonoskopi
Membantu membedakan sudut terbuka dan sudut tertutup
e.       Tes provokatif
Digunakan dalam menentukan tipe glaukoma jika TIO normal / hanya meningkat ringan.
f.       Pemeriksaan aftalmoskop
Menguji struktur internal okuler, mencatat atrofi lempeng optik, papiledema, perdarahan retina dan mikroaneurisma.
g.      Darah lengkap, LED
Menunjukkan anemia sistemik / infeksi
h.      EKG, kolesterol serum dan pemeriksaan lipid
Memastikan arterosklerosis, PAK
i.        Tes toleransi glukosa
Menentukan adanya DM

Analisa data
Data
Etiologi
Masalah
Ds : pasien mengeluh nyeri pada mata
Do :
1.        Skala nyeri 6
2.        Mata berair
3.        Tekana intra okuler meningkat
4.        Kelelahan mata




Ds :pasien mengeluh mata berkunang – kunang

Do :
1.        Mata merah
2.        Pupil menyempit
3.        Peningkatan air mata
4.        Visus mata berkurang
1.        Adanya kotoran pada mata
2.        Benturan pada organ mata







1.        Akibat benturan atau trauma mata
2.        Mata nyeri
1.        Nyeri
2.        Nyeri terasa di tusuk – tusuk
3.        Gangguan rasa nyaman






1.        Penglihatan berkurang
2.        Gangguan citra diri


B.       Diagnose keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokuler
2. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan hilangnya pandangan perifer
3. Gangguan citra diri berhubungan dengan kebutaa
n

C.  Intervensi keperawatan
1.    Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intraokuler
Tujuan : nyeri terkontrol / tulang
Kriteria hasil :
a.         Pasien mengatakan nyeri berkurang / hilang.
b.        Ekspresi wajah rileks.
c.         Pasien mendemonstrasikan pengetahuan akan penilaian pengontrolan nyeri.
Intervensi
Rasional
1)      Observasi derajat nyeri mata
2)      Anjurkan istirahat di tempat tidur dalam ruangan yang tenang.
3)      Ajarkan pasien teknik distraksi.
4)      Kolaborasi pemberian analgetik sesuai program.
1)      mengidentifikasi kemajuan / penyimpangan dari hasil yang diharapkan.
2)      stress mental / emosi menyebabkan peningkatan TIO.
3)      membantu dalam penurunan persepsi / respon nyeri.
4)      untuk mengurangi nyeri

2.    Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan hilangnya pandangan perifer
Tujuan : Penggunaan penglihatan yang optimal
Kriteria hasil :
a.         Pasien berpartisipasi dalam program pengobatan
b.        Pasien akan mempertahankan lapang ketajaman penglihatan lebih lanjut.
Intervensi
Rasional
1)        Kaji derajat / tipe kehilangan penglihatan.
2)        Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan tentang kehilangan / kemungkinan kehilangan penglihatan.
3)        Tunjukkan pemberian tetes mata, contoh menghitung tetesan, mengikuti jadwal, tidak salah dosis.
4)        Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi, misalnya agen osmotik sistemik.
1)      mengetahui harapan masa depan klien dan pilihan intervensi.
2)      intervensi dini untuk mencegah kebutaan, klien menghadapi kemungkinan / mengalami kehilangan penglihatan sebagian atau total.
3)      Mengontrol TIO, mencegah kehilangan penglihatan lebih lanjut.
4)      untuk mengurangi TIO

3.    Resiko cedera berhubungan dengan kebutaan
Tujuan : peningkatan lapang pandang optimal
Kriteria hasil :
Tidak terjadi cedera.
Intervensi
Rasional
1)        Bersihkan sekret mata dengan cara benar.
2)        Kaji ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata yang terlibat.
3)        Anjurkan pasien menggunakan kaca mata gelap.
4)        Perhatikan keluhan penglihatan kabur yang dapat terjadi setelah penggunaan tetes mata dan salep mata.
1)      sekret mata akan membuat pandangan kabur.
2)      terjadi penurunan tajam penglihatan akibat sekret mata.
3)      mengurangi fotofobia yang dapat mengganggu penglihatan klien.
4)      membersihkan informasi pada klien agar tidak melakukan aktivitas berbahaya sesaat setelah penggunaan obat mata.
:




DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2002. Keperawata Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta : EGC.

Carpenito, Lynda Juall. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 10. Jakarta : EGC.
Mansjoer, Arif.1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III Jilid 1. Jakarta : FKUI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar