Rabu, 12 September 2012

MAKALAH DESINFEKTAN

MAKALAH DESINFEKTAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya ada persamaan jenis bahan kimia yang digunakan sebagai antiseptik dan desinfektan. Tetapi tidak semua bahan desinfektan adalah bahan antiseptik karena adanya batasan dalam penggunaan antiseptik. Antiseptik tersebut harus memiliki sifat tidak merusak jaringan tubuh atau tidak bersifat keras. Terkadang penambahan bahan desinfektan juga dijadikan sebagai salah satu cara dalam proses sterilisasi, yaitu proses pembebasan kuman. Tetapi pada kenyataannya tidak semua bahan desinfektan dapat berfungsi sebagai bahan dalam proses sterilisasi. Bahan kimia tertentu merupakan zat aktif dalam proses desinfeksi dan sangat menentukan efektivitas dan fungsi serta target mikroorganime yang akan dimatikan. Dalam proses desinfeksi sebenarnya dikenal dua cara, cara fisik (pemanasan) dan cara kimia (penambahan bahan kimia). Dalam tulisan ini hanya difokuskan kepada cara kimia, khususnya jenis-jenis bahan kimia yang digunakan serta aplikasinya. Banyak bahan kimia yang dapat berfungsi sebagai desinfektan, tetapi umumnya dikelompokkan ke dalam golongan aldehid atau golongan pereduksi, yaitu bahan kimia yang mengandung gugus -COH; golongan alkohol, yaitu senyawa kimia yang mengandung gugus -OH; golongan halogen atau senyawa terhalogenasi, yaitu senyawa kimia golongan halogen atau yang mengandung gugus -X; golongan fenol dan fenol terhalogenasi, golongan garam amonium kuarterner, golongan pengoksidasi, dan golongan biguanida. Telah dilakukan perbandingan koefisien fenol turunan aldehid (formalin dan glutaraldehid) danhalogen (iodium dan hipoklorit) terhadap mikroorganisme Staphylococcus aureusdan Salmonella typhi yang resisten terhadap ampisilin dengan tujuan untuk mengetahui keefektifan dari disinfektan turunan aldehid dan halogen yang dibandingkan dengan fenol dengan metode uji koefisien fenol . B. Rumusan Masalah Dalam pembahasan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang ada pada latar belakang yang akan di bahas pada makalah ini yaitu sebagai berikut: 1. Pengertian Desinfektan? 2. Aspek-aspek desiinfektan? 3. Macam-macam antiseptic dan desinfektan? C. Tujuan Dalam makalah ini bertujuan agar lebih mengetahui pengertian daridesinfektan dan antiseptic, dan mengetahui macam-macam dari desinfektan dan antiseptic. BAB II PEMBAHASAN A.Pengertian Desinfektan Desinfektan adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya. Disinfektan digunakan untuk membunuh mikroorganisme pada benda mati. Desinfeksi adalah membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dengan bahan kimia atau secara fisik, hal ini dapat mengurangi kemungkinan terjadi infeksi dengan jalam membunuh mikroorganisme patogen. Desinfeksi dilakukan apabila sterilisasi sudah tidak mungkin dikerjakan, meliputi : penghancuran dan pemusnahan mikroorganisme patogen yang ada tanpa tindakan khusus untuk mencegah kembalinya mikroorganisme tersebut. 10 kriteria suatu desinfektan dikatakan ideal, yaitu : a. Bekerja dengan cepat untuk menginaktivasi mikroorganisme pada suhu kamar b. Aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh bahan organik, pH, temperatur dan c. kelembaban d. Tidak toksik pada hewan dan manusia e. Tidak bersifat korosif f. Tidak berwarna dan meninggalkan noda g. Tidak berbau/ baunya disenangi h. Bersifat biodegradable/ mudah diurai i. Larutan stabil j. Mudah digunakan dan ekonomis k. Aktivitas berspektrum luas B. Aspek-aspek Desi infeksi. Kecepatan atau keampuhan desi infektan tergantung dari beberapa factor yaitu: a) Keadaan mikro organism. b) Waktu kontak. c) Faktor lingkungan. d) Desinfektan. a.Keadaan mikro organism. 1. jenis Jenis ikro organism, yaitu bakteri virus, atau parasit, mempunyai kepekaan tertentu terhadap desi infektan yang berlainan misalnya resistensi cyfte protozoa > enterrovirus > enteric bacteria. 2. jumlah Jumlah mikro organism yang terutama yang pathogen, akan memerkukan dosis desiinfektan yang lebih besar pula. 3. umur Umur mikro organism akan mempengaruhi pula efektivitas desiinfektan 4. penyebaran Mikro organism yang menyebar akan mudah ditembus desiinfektan. Sebaliknya kumpulan bakteri akan lebih sulit di tembus oleh desiinfektan. Bakteri cenderung membentuk “clam” dengan suspenden solic yang ada didalam air, sehingga air yang keruh harus dicurigai sebagai air yang mempunyai bakteri pantogen yang lebih banyak. b. Waktu kontak. Untuk dapat berfungasi dengan optimal, desiinfektan harus mempunyai waktu kontan yang cukup denagan air yang diproses. Efektivitas desiinfektan dapat ditunjukan dengan suhu atau konstanta yang merupakan hasil kosentari dengan waktu kontan. c. Factor lingkungan 1. Suhu Makin tinggi suhu air, makin tinggi pula efektifita desinfektan. 2. PH Setiap desinfektan akan berfungsi dengan optimal pada Ph tertentu, 3. Kualitas air Air yang mengandung zat organic dan unsure lainnya, akan mempengaruhi besarnya choline demend, sehingga di perlukan kosentrasi clorine yang makin tinggi. 4. Pengelolaan air Proses yang d lakukan sebelum desinfektan, pengendap dan faksin akan mempengaruhi hasil yang di capai. d. Jenis Desinfektan 1. Chlorin Chlorin banyak di gunakan dalam pengelolaan air bersih dan air lmbah sebagai oksidator dan desinfektan. Sebgai oksidant. Chlorine di gunakan untuk mengunakan rasa dan warna pada pengelolaan air bersih. Macam-macam chlorine a. Anorganik cholaramine b. Organic cholaramine c. Cholorine di oksida 2. Ozone Ozone bersifat larut d dalam air dan mudah berkomposisi pada temperature dan PH tinggi. Karena sifat terakhir ini, maka harus di siapkan/di buat sesaat sebelum di gunakan. Ozone merupakan oksidator kuat dan bereaksi dengan cepat dengan hamper semua zat organic dan anorganik. Meskipun demikian, perkecualian terjadi bagi ion cholorida karena karena tidak bereaksi dengan ozone atau ammonia yang hanya sedikit bereaksi dengan ozone. Sifat ozone yang bereaksi dengan cepat menyebabkan persitensinya di dalam air hanya sebentar saja. Dengan demikian desinfektan ini kurang efekti bila di masudkan untuk menjaga kualtas air yang terkontaminasi di jaringan distribusi. Ozone sanagat tidak stabil di da;am air serta mempunyai waktu paru sebesar 40 menit ada PH 7,6 dan suhu 14,6 oC. pada suhu udara bebas, di perkirakan waktu luruhnya hanya sekitar 20 menit kemampuan ozone untuk membunuh mikrorganisme. 3. Yodine dan bromine Sudah sejak lama lodine di gunakan sebagai antiseptic pada luka yang kita derita. Meskipun pengunaannya sebagai desinfektan tidak/kurang popular saat ini. sperti hanya cholorine dan bromine, penggunaan lodine memerlukan memerlikan biaya yang lebih besar. Aktivitas lodine dan dalam membinaskan bakteri dan cyste sangat tergantu pada PH. Akan membinasakan virus dan lodine lebih efektif daripada chloride danbromine. 4. Bromine merupakan bakteri dan virusida yang efektif. Pada kehadiran ammonia di dalam air, bromine masih lebih efektif bila di bandingkan dengan chlorine. Sebagi cystesida, asam hypobromous masih tetap aktif pada PH > 9. C.Macam-Macam Desinfektan yang lain. 1.Garam Logam Berat Garam dari beberapa logam berat seperti air raksa dan perak dalam jumlah yang kecil saja dapat membunuh bakteri, yang disebut oligodinamik. Hal ini mudah sekali ditunjukkan dengan suatu eksperimen. Namun garam dari logam berat itu mudah merusak kulit, makan alat-alat yang terbuat dari logam dan lagipula mahal harganya. Meskipun demikian, orang masih biasa menggunakan merkuroklorida (sublimat) sebagai desinfektan. Hanya untuk tubuh manusia lazimnya kita pakai merkurokrom, metafen atau mertiolat. 2.Zat Perwarna Zat perwarna tertentu untuk pewarnaan bakteri mempunyai daya bakteriostatis. Daya kerja ini biasanya selektif terhadap bakteri gram positif, walaupun beberapa khamir dan jamur telah dihambat atau dimatikan, bergantung pada konsentrasi zat pewarna tersebut. Diperkirakan zat pewarna itu berkombinasi dengan protein atau mengganggu mekanisme reproduksi sel. Selain violet Kristal (bentuk kasar, violet gentian), zat pewarna lain yang digunakan sebagai bakteriostatis adalah hijau malakhit dan hijau cemerlang. 3.Klor dan senyawa klor Klor banyak digunakan untuk sterilisasi air minum. persenyawaan klor dengan kapur atau dengan natrium merupakan desinfektan yang banyak dipakai untuk mencuci alat-alat makan dan minum. 4.Fenol dan senyawa-senyawa lain yang sejenis Larutan fenol 2 – 4% berguna sebagai desinfektan. Kresol atau kreolin lebih baik khasiatnya daripada fenol. Lisol ialah desinfektan yang berupa campuran sabun dengan kresol; lisol lebih banyak digunakan daripada desinfektan-desinfektan yang lain. Karbol ialah nama lain untuk fenol. Seringkali orang mencampurkan bau-bauan yang sedap, sehingga desinfektan menjadi menarik. 5.Kresol Destilasi destruktif batu bara berakibat produksi bukan saja fenol tetapi juga beberapa senyawa yang dikenal sebagai kresol. Kresol efektif sebagai bakterisida, dan kerjanya tidak banyak dirusak oleh adanya bahan organic. Namun, agen ini menimbulkan iritasi (gangguan) pada jaringan hidup dan oleh karena itu digunakan terutama sebagai disinfektan untuk benda mati. Satu persen lisol (kresol dicampur dengan sabun) telah digunakan pada kulit, tetapi konsentrasi yang lebih tinggi tidak dapat ditolerir. 6.Alkohol Sementara etil alcohol mungkin yang paling biasa digunakan, isoprofil dan benzyl alcohol juga antiseptic. Benzyl alcohol biasa digunakan terutama karena efek preservatifnya (sebagai pengawet). 7.Formaldehida Formaldehida adalah disinfektan yang baik apabila digunakan sebagai gas. Agen ini sangat efektif di daerah tertutup sebagai bakterisida dan fungisida. Dalam larutan cair sekitar 37%, formaldehida dikenal sebgai formalin. 8.Etilen Oksida Jika digunakan sebagi gas atau cairan, etilen oksida merupakan agen pembunuh bakteri, spora, jamur dan virus yang sangat efektif. Sifat penting yang membuat senyawa ini menjadi germisida yang berharga adalah kemampuannya untuk menembus ke dalam dan melalui pada dasarnya substansi yang manapun yang tidak tertutup rapat-rapat. Misalnya agen ini telah digunakan secara komersial untuk mensterilkan tong-tong rempah- rempah tanpa membuka tong tersebut. Agen ini hanya ditempatkan dalam aparatup seperti drum dan, setelah sebagian besar udaranya dikeluarkan dengan pompa vakum, dimasukkanlah etilen oksida. 9.Hidogen Peroksida Agen ini mempunyai sifat antseptiknya yang sedang, karena kemampuannya mengoksidasi. Agen ini sangat tidak stabil tetapi sering digunakan dalam pembersihan luka, terutama luka yang dalam yang di dalamnya kemungkinan dimasuki organisme aerob. 10.Betapropiolakton Substansi ini mempunyai banyak sifat yang sama dengan etilen oksida. Agen ini mematikan spora dalam konsentrasi yang tidak jauh lebih besar daripada yang diperlukan untuk mematikan bakteri vegetatif. Efeknya cepat, ini diperlukan, karena betapropiolakton dalam larutan cair mengalami hidrolisis cukup cepat untuk menghasilkan asam akrilat, sehingga setelah beberapa jam tidak terdapat betapropiolakton yang tersisa. 11.Senyawa Amonium Kuaterner Kelompok ini terdiri atas sejumlah besar senyawa yang empat subtituennya mengandung karbon, terikat secara kovalen pada atom nitrogen. Senyawa – senyawa ini bakteriostatis atau bakteriosida, tergantung pada konsentrasi yang digunakan; pada umumnya, senyawa-senyawa ini jauh lebih efektif terhadap organisme gram-positif daripada organisme gram-negatif. 12.Sabun dan Detergen Sabun bertindak terutama sebagai agen akti-permukaan;yaitu menurunkan tegangan permukaan. Efek mekanik ini penting karena bakteri, bersama minyak dan partikel lain, menjadi terjaring dalam sabun dan dibuang melalui proses pencucian. 13.Sulfonamida Sejak 1937 banyak digunakan persenyawaan-persenyawaan yang mengandung belerang sebagai penghambat pertumbuhan bakteri dan lagipula tidak merusak jaringan manusia. Terutama bangsa kokus seperti Sterptococcus yang mengganggu tenggorokan, Pneumococcus, Gonococcus, dan Meningococcus sangat peka terhadap sulfonamide. 14.Antibiotik Antibiotik ialah zat-zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme, dan zat-zat itu dalam jumlah yang sedikit pun mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain. Pembicaraan dalam hal ini akan difokuskan pada desinfektan tingkat rendah. Desinfektan Tingkat Rendah dapat dibagi menjadi 2 golongan: Golongan 1. Desinfektan yang TIDAK membunuh virus HIV dan Hepatitis B o Klorhexidine (Hibitane, Savlon) o Cetrimide (Cetavlon. Savlon) o Fenol-fenol (Dettol) Desinfektan golongan ini TIDAK AMAN untuk digunakan:  Membersihkan cairan tubuh (darah, feses, urin dan dahak)  Membersihkan peralatan yang terkena cairan tubuh misalnya sarung tangan yang terkena darah Klorheksidine dan Cetrimide dapat digunakan sebagai desinfekan kulit Fenol-fenol dapat digunakan untuk membersihkan lantai dan perabot seperti meja dan almari namun penggunaan air dan sabun sudah dianggap memadai. Golongan 2. Desinfektan yang membunuh Virus HIV dan Hepatistis B o Desinfektan yang melepaskan klorin Contoh: Natrium hipoklorit (pemutih, eau de javel), Kloramin (Natrium tosilkloramid, Kloramin T) Natrium Dikloro isosianurat (NaDDC), Kalsium hipoklorit (soda terklorinasi, bubuk pemutih) o Desinfektan yang melepaskan Iodine misalnya : Povidone Iodine (Betadine, Iodine lemah) o Alkohol : Isopropil alkohol, spiritus termetilasi, Etanol o Aldehid : Formaldehid (formalin), Glutaraldehid (Cidex) o Golongan lain misalnya : Virkon dan H2O2 desinfektan yang melepaskan klorin • Desinfektan jenis ini dapat digunakan untuk membersihkan cairan tubuh • Mendesinfeksi sarung tangan yang terkena darah • Golongan ini TIDAK digunakan untuk mendesinfeksi instrumen 5. JANGAN GUNAKAN DESINFEKTAN PEMBEBAS KLORIN UNTUK MENDESINFEKSI JARUM DAN SYRINGE (Tabung Suntik) Konsentrasi larutan klorin dapat ditulis dengan tiga cara • Persentase (0,5 %) • Gram per liter (5 g/l) • Ppm (5000 ppm) Contoh : 1%=10g/l=10,000 ppm Konsentarsi yang diperluan untuk membunuh Virus HIV dan Hepatitis B • Kondisi kotor, misalnya terdapat cairan darah dalam jumlah besar -----» 0,5 % larutan • Kondisi bersih, misalnya terdapat cairan darah dalam jumlah kecil -----» 0,1 % larutan Bagaimana mendapatkan desinfektan pembebas klorin Di daerah terpencil dan kota-kota kecil, dapat digunakan pemutih rumah tangga dalam konsentrasi 3% s.d 15%. Jika mungkin ujilah beberapa sampel untuk menentukan berapa konsentrasi klorin sebenarnya. Jika hal itu tidak dapat anda lakukan gunakan selalu konsentrasi 5%. Usahakan mengunakan pemutih yang terbaru paling lama 3 bulan setelah diproduksi. Pemutih dapat dengan mudah kehilangan daya kerjanya terlebih dalam cuaca panas. Kloramid dan NaDDC tersedia di toko-toko obat dan apotik. WAKTU KADALUWARSA • Larutan encer : 24 jam • Larutan baru harus dibuat setiap hari • Beberapa produk mempunyai waktu kadaluwarsa yang lebih panjang yang dapat dilihat dari label/informasi yang diberikan produsen WAKTU KONTAK • Secara umum waktu kontak untuk desinfektan golongan ini adalah 10 - 15 menit • Waktu kontak tidak boleh lebih dari 30 menit dimana ada kemungkinan merusak kulit. PERINGATAN ! • Simpan larutan pemutih baik-baik • Gunakan sarung tangan ketika membersihkan sisa-sisa cairan tubuh • Jangan gunakan wadah logam atau kayu untuk menyimpan cairan klorin. Gunakan wadah plastik • Jangan gunakan untuk peralatan logam khususnya instrumen yang digunakan untuk mata karena korosi dan berkarat. • Larutan hanya akan bekerja jika konsentrasi yang digunakan tepat. Sangat mungkin untuk membuat cairan tidak di bangsal. PETUNJUK PRAKTIS Membersihkan tumpahan darah • Untuk ceceran darah dalam jumlah kecil • Bersihkan ceceran darah dengan menggunakan lap . Jika tersedia gunakan lap sekali pakai. Jika lap seperti ini tidak ada anda dapat melihat bagaimana cara membuat lap sendiri untuk membersihkan ceceran darah. Sapulah daerah tadi dengan larutan klorin 0,1% • Untuk ceceran darah dalam jumlah besar Tutupi darah dengan lap. Tuangkan 0,5% larutan klorin sehingga cukup untuk menggenangi daerah dimana ada darah tersebut. Biarkan selama 10 menit. Sapulah lap, darah dan klorin yang ada dengan menggunakan lebih banyak lap lain. Sapulah lagi daerah tersebut dengan larutan klorin Membuat Lap Sendiri • Potonglah lap kain menjadi potongan-potongan kecil yang berukuran kurang lebih 21 x 30 cm2. • Gunakan potongan tersebut untuk menghapus ceceran darah. Sesudah digunakan masukkan lap tersebut ke dalam ember plastik . Rendam dengan larutan klorin 0,1% selama 10 menit sehingga aman untuk dipegang. Cuci dan keringkan lap tersebut. Sekarang lap tersebut aman untuk digunakan kembali TIPS Di kamar bersalin dan kamar bedah sering dijumpai banyak sisa-sisa darah tercecer di sarung tangan. Sebelum diambil bilaslah sarung tangan dengan larutan klorin 0,1% untuk menghilangkan darah. Kemudian masukkan sarung tangan tersebut ke dalam ember dan rendam dengan larutan klorin 0,1% selama 10 menit. Sekarang sarung tangan tersebut aman untuk diambil. Sarung tangan tersebut dapat dicuci dengan air dan dikeringkan dengan cara biasa. Tabel 1. Penggunaan desinfektan pembebas klorin Kandungan Bagaimana membuat 1 liter larutan Komentar Perkiraan beaya per liter dari larutan 0,5%**) Natrium hipoklorit (pemutih) 5% Larutan 0,5% 100 ml pemutih dalam 1 liter air Larutan 0,1% 20 ml pemutih dalam 1 liter air Simpan dalam botol dingin di tempat gelap. Jangan membeli terlalu banyak pemutih karena mudah mengalami penurunan potensi Rp. 450,- Kloramin Larutan 0,5% 20 g per liter Contoh : jika menggunakan tablet 500 mg, gunakan 40 tablet setiap liter Larutan 0,1%*) 20 g/liter Tersedia dalam bentuk serbuk atau tablet. Lebbih stabil daripada pemutih namun tetap memerlukan ruangan dingin dan gelap Rp. 3.600,- Tablet Natrium dikloro isosianurat (mengandung 1,5 g klorin setiap tablet) Larutan 0,5% 4 tablet setiap liter Larutan 0,1% 1 tablet setiap liter Tablet tersedia dengan beragam potesi. Ikuiti petunjuk pabrik. Jika membuat larutan 0,5% dari serbuk gunakan 8,5 g per liter Rp. 2.500,- Kalsium hipoklorit Larutan 0,5% 7 g setiap liter Larutan 0,1% 1,4 g setiap liter Dalam kondisi normal seringkali menunjukkan adanya endapan dalam larutan Rp. 360,- *) Untuk beberapa bahan diperlukan jumlah yang lebih banyak untuk membuat larutan 0,1%. Hal ini terkait dengan kemurnian kimia bahan tersebut. **) Asumsi : $1= Rp. 9.000,- Catatan : 0,5%=5 g per liter=5000 ppm KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PENGGUNAAN BAHAN YANG MELEPASKAN KLORIN KEUNTUNGAN KERUGIAN • Mempunyai aktivitas yang baik dalam melawan HIV dan Hepatitis B • Tersedia luas sebagai pemutih rumah tangga • Relatif murah dibandingkan disinfektan lain • Bersifat korosif, sehingga perlu kehati-hatian jika digunakan terhadap permukaan logam • Natrium hipoklorit mudah rusak sesudah dilarutkan • Kesalahan dapat terjadi pada saat mengencerkan larutan APAKAH PERBEDAAN STERILISASI DAN DESINFEKSI Sterilisasi : Semua mikroba termasuk spora bakteri akan terbunuh Dapat dilakukan dengan menggunakan pemanasan uap (autoklav) atau dengan panas kering Dapat juga dilakukan dnegan penjenuhan dengan glutaraldehid atau formaldehid selama 10 jam Desinfeksi Tingkat Tinggi : Semua mikroba, sebagian dari spora bakteri terbunuh Dapat dilakukan dengan pendidihan selama 20 menit atau dengan penjenuhan dengan jumlah besar disinfektan selama 30 menit misalnya dengan mengunakan glutaraldehid atau H2O2 Desinfeksi Tingkat Rendah: akan menghilangkan jumlah mikroba sehingga peralatan atau permukaan badan aman untuk dipegang. Desinfeksi ini dapat dilakukan dengan beberapa macam disinfektan D.MEMBUAT LARUTAN DESINFEKTAN 1. MEMBUAT LARUTAN DESINFEKTAN a) Pengertian Menyiapkan/membuat larutan desinfektan sesuai ketentuan . b) Tujuan Menyediakan larutan desinfektan yang dapat digunakan secara tetap guna dan aman serta dalam keadaan siap pakai. c) Jenis desinfektan • Sabun yang mempunyai daya antiseptic, misalnya Asepso, sopoderm • Risol • Kreolin • Salvon • PK (Permanganas Kalikus) • Betadin d) Cara pembuatan • Cara membuat larutan sabun e) Kegunaan Mencuci tangan dan peralatan, seperti alat tenun, logam, kaca, karet/plastic, kayu bercat dan yang berlapis formika. f) Persiapan alat • Sabun padat, sabun krim, atau sabun cair • Gelas ukur/spuit • Timbangan (jika ada) • Pisau atau sendok makan • Alat pengaduk • Air panas/hangat dalam tempatnya • Ember/baskom Prosedur pelaksanaan 1. Membuat larutan dari sabun padat/krim Masukkan sabun padat sekurang-kurangnya 4 gram ke dalam ember berisi 1 liter air panas/hangat lalu aduk sampai larut. 2. Membuat larutan dari sabun cair Campurkan 3 cc sabun cair ke dalam eber berisi 1 liter air hangat, kemudian aduk sampai rata. 2) Cara membuat larutan lisol dan kreolin Kegunaan • Lisol 0,5% : Memcuci tangan. • Lisol 1% : Disinfeksi peralatan perawatan/ kedokteran. • Lisol 2-3% : Merendam peralatan yang digunakan pasien pengidap penyakit menular, selama 24 jam. • Kreolin 0,5% : Mendesinfeksi lantai. • Kreolin 2% : Mendesinfeksi lantai kamar mandi/ WC/spulhok. Persiapan alat • Larutan lisol • Gelas ukur • Ember berisi air • Ember/baskom • Kreolin Prosedur pelaksanaan 1. Membuat larutan lisol/kreolin 0.5% Campurkan 5 cc lisol/kreolin ke dalam 1 liter air. 2. Membuat larutan lisol/kreolin 2% sampai 3% Campurkan 20 cc sampai 30 cc lisol/kreolin ke dalam 1 liter air. 3) Cara membuat larutan savlon Kegunaan • Savlon 0,5% : Mencuci tangan. • Savlon 1% : Merendam peralatan perawatan/kedokteran. Persiapan alat • Gelas ukur • Ember atau baskom • Ember berisi air secukupnya Prosedur pelaksanaan 1. Membuat larutan savlon 0,5% Campurkan 5 cc savlon ke dalam 1 liter air. 2. Membuat larutan savlon 1% Campurkan 10 cc savlon ke dalam 1 liter air. 4) Cara membuat larutan PK Rumus: Keterangan: V1 : Jumlah pelarut (air) yang sudah diketahui V2 : Jumlah pelarut (air) yang dicari K1 : Kosentrasi PK yang tersedia K2 : Kosentrasi PK yang dibutuhkan (1/4000) BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Desinfektan didefinisikan sebagai bahan kimia atau pengaruh fisika yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh atau menurunkan jumlah mikroorganisme atau kuman penyakit lainnya. Sedangkan antiseptik didefinisikan sebagai bahan kimia yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan jasad renik seperti bakteri, jamur dan lain-lain pada jaringan hidup. Bahan desinfektan dapat digunakan untuk proses desinfeksi tangan, lantai, ruangan, peralatan dan pakaian. Pada dasarnya ada persamaan jenis bahan kimia yang digunakan sebagai antiseptik dan desinfektan. Tetapi tidak semua bahan desinfektan adalah bahan antiseptik karena adanya batasan dalam penggunaan antiseptik. Antiseptik tersebut harus memiliki sifat tidak merusak jaringan tubuh atau tidak bersifat keras. Terkadang penambahan bahan desinfektan juga dijadikan sebagai salah satu cara dalam proses sterilisasi, yaitu proses pembebasan kuman. Tetapi pada kenyataannya tidak semua bahan desinfektan dapat berfungsi sebagai bahan dalam proses sterilisasi. Referensi 1. ^ (Inggris)Departemen Pendidikan Nasional Indonesia. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ed.4. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r Purnawijayanti HA. 2001. Sanitasi, Higiene, dan Keselamatan Kerja dalam Pengolahan Makanan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 3. ^ Havard CWH. 1990. Black’s Medical Dictionary 36th edition. USA: Barnes & Noble Books. 4. ^ a b c d e f g Darmadi. 2008. Infeksi Nosokomial: Problematika dan Pengendaliannya. Jakarta: Penerbit Salemba Medika. 5. ^ a b c d e Chandra B. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan, Indonesia: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 6. ^ a b c d Sumawinata N. Senarai Istilah Kedokteran Gigi. Indonesia: Penerbit Buku Kedokteran EGC. DAFTAR PUSTAKA http://signaterdadie.wordpress.com/2009/10/08/desinfektan/ http://linkfadliblog.blogspot.com/2009/05/disinfektan.html. http://abunidathoe.multiply.com/journal/item/32

makalah Menopause

makalah Menopause BAB 1 PENDAHULUAN Menurut Kasdu (2002 : 54), menopouse adalah sebuah kata yang mempunyai banyak arti. Men dan peuseis adalah kata Yunani yang pertama kali digunakan untuk menggambarkan berhentinya haid. Menurut kepustakaan abad 17 dan 18 menopouse dianggap sebagai suatu bencana dan malapetaka, sedangkan wanita setelah menopouse dianggap tidak berguna dan tidak menarik lagi. Webster’s Ninth New Collection mendefinisikan menopouse sebagai periode berhentinya haid secara alamiah yang biasanya terjadi antara usia 45 dan 50. Menopouse kadang-kadang juga dinyatakan sebagai masa berhentinya haid sama sekali. Baziad (2000) dalam (Kasdu, 2002 : 56) menyebutkan menopouse sebagai pendarahan rahim terakhir yang masih diatur oleh fungsi hormon indung telur. Istilah menopouse digunakan untuk menyatakan suatu perubahan hidup dan pada saat itulah seorang wanita mengalami periode terakhir masa haid. Menurut Ali (2004 : 8), pada beberapa wanita, berakhirnya haid terjadi secara mendadak, satu masa haid berakhir dan ia tidak pernah mendapat haid lagi. Bagi wanita yang lain , jarak haidnya menjadi tidak teratur, terjadi antara selang waktu 3 (tiga) minggu sampai beberapa bulan. Apabila satu tahun penuh telah berlalu tanpa mendapat haid, maka ia dapat dengan yakin menyimpulkan bahwa menopouse terjadi saat terakhir kali ia mendapat haid. Menopause menyebabkan beberapa perubahan fisik yang dapat mempengaruhi fungsi seksual seorang wanita. Berkurangnya kadar estrogen dan progesteron saat dan setelah menopause menyebabkan lapisan dinding vagina menjadi tipis dan lebih keras. Sebagai tambahan, produksi cairan vagina turun, menambahkan rasa tidak nyaman saat bersetubuh. Kondisi ini menyebabkan stres emosi yang sangat kuat (Kesrepro, 2007 : 12). Sudah menjadi kodratnya bahwa setiap perempuan pasti akan mengalami apa yang disebut dengan menopause, yaitu berhentinya siklus menstruasi atau datang bulan secara fisiologis secara alami yang disebabkan oleh faktor usia. BAB II PEMBAHASAN A.DEVINISI Menopause adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan penghentian permanen dari fungsi utama dari ovarium manusia: pematangan dan pelepasan ovum dan pelepasan hormon yang menyebabkan kedua penciptaan dinding rahim dan penumpahan berikutnya dari dinding rahim (alias menstruasi atau periode). Menopause biasanya (tetapi tidak selalu) terjadi pada wanita di usia pertengahan, selama akhir 40-an atau awal 50-an, dan sinyal akhir dari fase subur dari kehidupan seorang wanita. Transisi dari reproduksi non-reproduksi adalah hasil dari penurunan produksi hormon oleh indung telur wanita. Transisi ini biasanya tidak tiba-tiba atau mendadak, cenderung terjadi selama periode tahun, dan merupakan konsekuensi alami dari penuaan. Namun, untuk beberapa wanita, tanda-tanda yang menyertainya dan efek yang dapat terjadi selama tahun-tahun transisi menopause secara signifikan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan rasa kesejahteraan. Selain itu, wanita yang memiliki semacam gangguan fungsional yang mempengaruhi sistem reproduksi (misalnya, endometriosis, sindrom ovarium polikistik, kanker pada organ reproduksi) dapat masuk ke masa menopause di usia lebih muda dari rentang waktu yang normal. Gangguan fungsional sering secara signifikan mempercepat proses menopause dan membuat lebih banyak masalah kesehatan yang signifikan, baik fisik dan emosional, bagi wanita yang terkena. Kata "menopause" secara harafiah berarti "akhir dari siklus bulanan" dari pausis kata Yunani (penghentian) dan laki-laki-root (bulan), karena kata "menopause" diciptakan untuk menggambarkan perubahan dalam manusia perempuan, di mana akhirnya kesuburan secara tradisional ditandai dengan berhentinya menstruasi secara permanen bulanan atau menstruasi. Namun, menopause juga ada di beberapa hewan lainnya, banyak yang tidak memiliki haid bulanan. dalam hal ini, istilah berarti akhir yang alami untuk kesuburan yang terjadi sebelum akhir jangka hidup alami. Tanggal menopause pada manusia perempuan secara resmi secara medis didefinisikan sebagai waktu dari periode menstruasi terakhir (atau aliran menstruasi dari jumlah berapapun, sekecil), pada wanita-wanita yang tidak menjalani histerektomi. Perempuan yang memiliki rahim mereka dihapus tetapi mempertahankan indung telur mereka tidak segera masuk ke menopause, meskipun periode mereka berhenti. Wanita dewasa yang memiliki indung telur mereka dihapus Namun, segera pergi ke menopause pembedahan, tidak peduli seberapa muda mereka. Menopause adalah perubahan tidak dapat dihindari bahwa setiap wanita akan mengalami, dengan asumsi ia mencapai usia pertengahan dan seterusnya. Akan sangat membantu jika perempuan dapat belajar apa yang diharapkan dan apa pilihan yang tersedia untuk membantu transisi, jika itu menjadi perlu. Menopause memiliki jangkauan mulai lebar, tetapi biasanya dapat diharapkan dalam kisaran usia 42-58 . Sebuah menopause dini dapat berhubungan dengan merokok, indeks massa tubuh lebih tinggi, faktor ras dan etnis, penyakit, kemoterapi, radiasi dan operasi pengangkatan rahim dan / atau kedua ovarium. Menopause dapat resmi menyatakan (dalam seorang wanita dewasa yang tidak hamil, tidak menyusui, dan yang memiliki rahim yang utuh) pada saat terjadi amenore (tidak adanya menstruasi) selama satu tahun lengkap. Namun, ada banyak tanda dan efek yang mengarah ke titik ini, banyak yang dapat meluas melewati juga. Ini termasuk:. Mens tidak teratur, ketidakstabilan vasomotor (hot flashes dan keringat malam), atrofi jaringan genitourinari, stres meningkat, nyeri payudara, vagina kering, pelupa, perubahan mood, dan dalam kasus osteoporosis tertentu dan / atau penyakit jantung. Ini efek yang terkait dengan perubahan hormonal tubuh wanita akan melalui, dan mereka mempengaruhi setiap wanita untuk sebagian berbeda. Satu-satunya tanda atau efek bahwa semua wanita secara universal memiliki kesamaan adalah bahwa pada akhir dari transisi menopause setiap wanita akan memiliki penghentian lengkap menstruasi. B. CIRI - CIRI MENOPAUSE . Beberapa tanda dan gejala tersebut antara lain : 1.Perdarahan Perdarahan disini adalah perdarahan yang keluar dari vagina. Tidak seperti menstruasi yang datangnya teratur, perdarahan yang terjadi pada wanita menopause tidak teratur. Gejala ini terutama muncul pada saat permulaan menopause. Perdarahan akan muncul beberapa kali dalam rentang beberapa bulan untuk kemudian berhenti sama sekali. Karena munculnya pada masa awal menopause, gejala ini sering disebut gejala peralihan. 2.Rasa panas dan keringat malam Rasa panas sering dialami wanita yang memasuki masa menopause. Perasaan ini sering dirasakan mulai dari wajah menyebar ke seluruh tubuh. Rasa panas ini sering disertai dengan warna kemerahan pada kulit dan berkeringat. Perasaan ini sering terjadi selama 30 detik sampai dengan beberapa menit. Meskipun penjelasan tentang fenomena ini belum diketahui dengan pasti namun diduga terjadi akibat dari fluktuasi hormon estrogen. Seperti diketahui, pada saat menopause, kadar hormon estrogen dalam darah akan anjlok secara tajam sehingga berpengaruh terhadap beberapa fungsi tubuh yang dikendalikan oleh hormon ini. Sampai saat ini belum ditemukan metode untuk memperkirakan pada usia berapa penomena ini akan muncul dan kapan akan berakhir. Rasa panas ini bahkan sudah terjadi sebelum seorang wanita memasuki masa menopause. Gejala ini akan menghilang dalam 5 tahun pada sekitar 80% wanita, sisanya akan terus mengalaminya sampai dengan 10 tahun. Sialnya, disamping rasa panas dan kemerahan, penderitaan wanita yang sedang menopause juga ditambah dengan keringatan di malam hari. Gejala ini tentu akan menganggu tidur yang menyebabkan wanita yang mengalaminya akan selalu kurang tidur. 3.Gejala pada vagina Gejala pada vagina muncul akibat dari perubahan yang terjadi pada lapisan dinding vagina. Vagina menjadi kering dan kurang elastis akibat dari penurunan kadar estrogen. Selain itu muncul pula rasa gatal pada vagina dan yang lebih parah adalah rasa sakit saat berhubungan seksual. Perubahan pada vagina ini juga mengakibatkan wanita menopause rentan terhadap infeksi vagina. 4.Gejala perkemihan Perubahan yang terjadi pada lapisan vagina juga terjadi pada saluran urethra. Urethra adalah saluran yang menyalurkan air seni dari kandung kemih ke luar tubuh. Saluran urethra juga akan mengering, menipis dan berkurang keelastisannya akibat dari penurunan kadar estrogen. Perubahan ini akan menyebabkan wanita menopause rentan terkena infeksi saluran kencing, selalu ingin kencing dan ngompol. 5.Gejala emosional dan kognitif Wanita yang akan memasuki masa menopause sering mengalami gejala emosional dan kognitif yang bervariasi. Gejala ini antara lain, kelelahan mental, masalah daya ingat, lekas marah, dan perubahan mood yang berlangsung cepat. Sangat sulit untuk C. JENIS MENOPAUSE DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI Menopause pada wanita terbagi menjadi 2 jenis, diantaranya : 1. Menopause premature Menopause premature ialah menopause yang terjadi dibawah usia 40 tahun. Menopause premature ditandai dengan apabila terjadi penghentian masa menstruasi sebelumnya tepat pada waktunya disertai dengan tanda hot flushes serta peningkatan kadar hormone gonadotropin. Jika tidak mengalami tanda-tanda yang seperti disebutkan, perlu ada tindak lanjut kembali penyebab lain terganggu ovarium. Adapun faktor- faktor yang menyebabkan menopause prematur adalah heriditer, gangguan gizi yang cukup berat, penyakit menahun dan penyakit yang merusak jaringan kedua ovarium. Namun menopause premature tidak memerlukan terapi, kecuali pemberian keterangan atau informasi terkait kepada seorang wanita yang bersangkutan. 2. Menopause terlambat Umumnya batas usia terjadinya menopause adalah usia 52 tahun. Namun apabila ada seorang wanita yang masih memiliki siklus menstruasi atau dalam arti masih mengalami menstruasi di usia 52 tahun. Ada beberapa faktor yang mendorong mengapa di usia 52 tahun masih ada wanita yang mengalami menstruasi, diantaranya faktor tersebut adalah konstitusional, fibromioma uteri dan tumor ovarium yang menghasilkan estrogen. Wanita dengan karsinoma endometrium sering dalam anamnesis disebut juga dengan menopause terlambat. Selain karena faktor dari jenis menopause diatas, ada beberapa faktor lain yang mendukung menopause itu terjadi dan kapan menopause itu terjadi, diantaranya ialah : 1. Usia saat haid pertama kali ( menarche ) Jika seorang wanita pertama kali mengalami menstruasi terbilang dalam usia yang masih belia, maka menopause yang akan terjadi semakin lama. 2. Faktor psikis Mereka para wanita yang belum menikah dan bekerja sangat mempengaruhi menopause itu lebih cepat terjadi dibanding dengan mereka yang tidak menikah dan tidak bekerja. Hal ini sangat mempengaruhi keadaan psikis wanita. 3. Jumlah anak Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa wanita yang melahirkan banyak anak, cenderung lebih mudah dan lebih cepat mengalami penuaan dini dan mereka makin dekat dengan masa menopause. 4. Usia melahirkan Ketika seorang wanita melahirkan atau memilii seorang anak dalam usia yang cukup tua misalnya memiliki anak di usia 35 tahun, maka semakin lama wanita tersebut memasuki usia menopause. Hal ini disebabkan oleh ketika seorang dalam masa kehamilan dan persalinan di usia yang cukup tua akan berpengaruh pada lambannya proses sistem kerja dari organ reproduksi dan memperlambat proses penuaan dini 5. Pemakaian kontrasepsi Pemilihan dalam pemakaian alat kontrasepsi juga dapat mempengaruhi seorang wanita mengalami keterlambatan dalam menopause. 6. Merokok Rokok memang menjadi salah satu penyebab dari banyak penyakit. Wanita yang suka merokok cenderung lebih cepat mengalami masa menopause. 7. Sosial ekonomi Secara pasti faktor sosial ekonomi belum bisa dipastikan sebagai penyebab menopause. Namun menurut sebuah buku karya DR. Faisal mengungkapkan bahwa menopause dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi termasuk pendidikan dan pekerjaan. C. Penyebab Dan Gejala Menopause Sejalan dengan pertambahan usia, ovarium menjadi kurang peka terhadap rangsangan oleh LH ( Luteinizing Hormone ) dan FSH ( Folilicle Stimulating Hormone ) yang dihasilkan oleh kelenjar hipofisa. Akibatnya ovarium melepaskan lebih sedikit estrogen dan progesteron dan pada akhirnya proses ovulasi ( pelepasan sel telur ) berhenti. Menopause dini adalah menopause yang terjadi sebelum usia 40 tahun. Kemungkinan penyebabnya adalah faktor keturunan, penyakit autoimun dan rokok. Menopause buatan terjadi akibat campur tangan medis yang menyebabkan berkurangnya atau berhentinya pelepasan hormon oleh ovarium. Campur tangan ini bisa berupa pembedahan untuk mengangkat ovarium atau untuk mengurangi aliran darah ke ovarium serta kemoterapi atau terapi penyinaran ( pengangkatan rahim ) menyebabkan berakhirnya siklus menstruasi, tetapi selama ovarium tetap ada hal tersebut tidak akan mempengaruhi kadar hormon dan tidak menyebabkan menopause. Gambar diatas merupakan perbedaan bentuk sistem reproduksi pada wanita ketika masa muda dan masa menopause 1. Gejala Menopause Gejala-gejala menopause disebabkan oleh perubahan kadar estrogen dan progesteron. Karena fungsi ovarium berkurang, maka ovarium lebih sedikit menghasilkan estrogen atau progesteron dan tubuh memberikan reaksi. Beberapa wanita hanya mengalami sedikit gejala, sedangkan wanita yang lain mengalami beberapa gejala yang sifatnya ringan sampai berat. Hal ini adalah normal, berkurangnya kadar esterogen secara bertahap menyebabkan tubuh secara perlahan, menyesuaikan diri terhadap perubahan hormon, tetapi pada beberapa wanita penurunan kadar estrogen ini terjadi secara tiba-tiba dan menyebabkan gejala-gejala yang hebat. Hal ini sering terjadi jika menopause disebabkan oleh pengangkatan ovarium. Perimenopause Perimenopause yakni suatu kondisi dimana tubuh beradaptasi dengan masa menjelang menopause yang terjadi antara 2-8 tahun, ditambah 1 tahun setelah berakhirnya masa menstruasi. Tidak diketahui cara untuk menentukan berapa lama perimenopause ini akan terus terjadi. Stadium dari masa perimenopause merupakan bagian terakhir yang menandakan akhir dari masa reproduksi. Penurunan fungsi indung telur selama masa perimenopause berkaitan erat dengan dengan penurunan hormon estradiol dan produksi hormon androgen. Akan tetapi seorang wanita masih memiliki kemungkian dapat hamil apabila masih mengalami menstruasi selama masa perimenopause meskipun siklus menstruasi yang dialami tidak teratur. Gejala-gejala perimenopause diantaranya adalah : a. Perubahan di dalam periode menstruasi (memendek atau memanjang, lebih banyak atau lebih sedikit atau tidak mendapat menstruasi sama sekali) b. Hot flashes c. Keringat malam d. Kekeringan pada vagina e. Gangguan tidur f. Perubahan mood (depresi, mudah tersinggung) g. Nyeri ketika bersanggama h. Infeksi saluran kemih i. Inkontinensia urin (tidak mampu menahan keluarnya air seni) j. Tidak berminat pada hubungan seksual k. Peningkatan lemak tubuh di sekitar pinggang l. Bermasalah dengan konsentrasi dan daya ingat Gejala- gejala umun yang mungkin ditemukan pada wanita menopause adalah : 1. Hot Flashes terjadi akibat peningkatan aliran darah di dalam pembuluh darah wajah, leher, dada dan punggung. Kulit menjadi merah dan hangat disertai keringat yang berlebihan. Hot Flashes dialami oleh sekitar 75 % wanita menopause. Kebanyakan hot flashes dialami lebih dari 1 tahun dan 25-50 % wanita mengalaminya sampai lebih dari 5 tahun. Hot Flashes berlangsung selama 30 detik sampai 5 menit. 2. Vagina menjadi kering karena penipisan jaringan pada dinding vagina sehingga ketika melakukan hubungan seksual bisa timbul rasa nyeri. 3. Gejala psikis dan emosional ( kelelahan, mudah tersinggung, susah tidur dan gelisah ) bisa disebabkan oleh berkurangnya kadar estrogen. Berkeringat pada malam hari menyebabkan gangguan tidur sehingga kelelahan semakin memburuk dan semakin mudah tersingggung. 4. Pusing, kesemutan dan palpitasi ( jantung berdebar ) 5. Hilangnya kendali terhadap kandung kemih ( beser ) 6. Peradangan kandung kemih atau vagina 7. Osteoporosis ( pengeroposan tulang ) 8. Post-menopause adalah kondisi dimana seorang wanita telah mencapai masa menopause. Pada masa Post-menopause seorang wanita akan muda sekali mengidap penyakit jantung dan pengeroposan tulang ( osteoporosis ) Resiko tinggi terjadinya osteoporosis ditemukan pada wanita yang kurus, merokok, mengkonsumsi alkohol secara berlebihan mengkomsusmi kortikosteroid, memiliki asupan kalsium yang rendah, dan jarang berolahraga. Setelah tiba masa menopause, ada 2 jenis gangguan kesehatan yang mungkin akan dialami wanita setelah memasuki atau berlangsungnya masa menopause, adalah : - Osteoporosis Osteoporosis merupakan suatu gangguan kesehatan yang ditandai dengan berkurangnya masa kepadatan tulang dan kelainan mikro-arsitektur, yang berakibat pada pengeroposan tulang. Osteoporosis banyak dialami oleh mereka yang berusia lanjut, Masa kepadatan tulang sangat dipengaruhi oleh kalsium, karena 98 % tubuh memiliki kalsium yang banyak tersimpan dalam tulang. Kalsium yang memilik peranan penting adalah kalsium ion yang dipengaruhi oleh 3 hormon, yakni hormon paratiroid, 1,25 dihidroksi vitamin D dan kalsitonin. Ada sekitar 80 % penderita osteoporosis adalah wanita, termasuk wanita yang berhenti masa menstruasinya ( amenorrhea ) meskipun usianya masih terbilang muda, hal ini dikarenakan kerapuhan tulang akibat dari hormon esterogen yang semakin rendah, dan juga dapat dipengaruhi masa diet yang tidak cukup baik dalam memenuhi nutrisi dan kalsium yang cukup. -Penyakit jantung Pada umumnya yang paling banyak ditemukan adalah apabila seorang wanita telah memasuki masa menopause dan mengalami osteoporosis memiliki kemungkinan terserang penyakit jantung, hal ini dikarenakan kadar esterogen meningkatkan tekanan darah dan berat badan yang mengkibatkan pembuluh darah yang mengalir ke jantung tidak bekerja dengan baik D.PENGOBATAN Tidak semua wanita pasca menopause perlu menjalani Terapi Sulih Hormon (TSH). Setiap wanita sebaiknya mendiskusikan resiko dan keuntungan yang diperoleh dari TSH dengan dokter pribadinya . Banyak ahli yang menganjurkan TSH dengan tujuan untuk : 1) Mengurangi gejala menopause yang tidak diinginkan 2) Membantu mengurangi kekeringan pada vagina 3) Mencegah terjadinya osteoporosis. Beberapa efek samping dari TSH : o Perdarahan vagina o Nyeri payudara o Mual o Muntah o Perut kembung o Kram rahim. Untuk mengurangi resiko dari TSH dan tetap mendapatkan keuntungan dari TSH, para ahli menganjurkan: 1) Menambahkan progesteron terhadap estrogen 2) Menambahkan testosteron terhadap estrogen 3) Menggunakan dosis estrogen yang paling rendah. 4) Melakukan pemeriksaan secara teratur, termasuk pemeriksan panggul, dan Pap smear sehingga kelainan bisa ditemukan sedini mungkin. Estrogen tersedia dalam bentuk alami dan sintetis (dibuat di laboratorium). Estrogen sintetis ratusan kali lebih kuat dibandingkan estrogen alami sehingga tidak secara rutin diberikan kepada wanita menopause. Untuk mencegah hot flashes dan osteoporosis hanya diperlukan estrogen alami dalam dosis yang sangat rendah. Dosis tinggi cenderung menimbulkan masalah, diantaranya sakit kepala migren. Estrogen bisa diberikan dalam bentuk tablet atau tempelan kulit (estrogen transdermal). Krim estrogen bisa dioleskan pada vagina untuk mencegah penipisan lapisan vagina (sehingga mengurangi resiko terjadinya infeksi saluran kemih dan beser) dan untuk mencegah timbulnya nyeri ketika melakukan hubungan seksual. Wanita pasca menopause yang mengkonsumsi estrogen tanpa progesteron memiliki resiko menderita kanker endometrium. Resiko ini berhubungan dengan dosis dan lamanya pemakaian estrogen. Jika terjadi perdarahan abnormal dari vagina, dilakukan biopsi lapisan rahim. Mengkonsumsi progesteron bersamaan dengan estrogen dapat mengurangi resiko terjadinya kanker endometrium. Biasanya terapi sulih hormon estrogen tidak dilakukan pada wanita yang menderita : o Kanker payudara atau kanker endometrium stadium lanjut o Perdarahan kelamin dengan penyebab yang tidak pasti o Penyakit hati akut o Penyakit pembekuan darah Porfiria intermiten akut. Kepada wanita tersebut biasanya diberikan obat anti-cemas, progesteron atau klonidin untuk mengurangi hot flashes. Untuk mengurangi depersi, kecemasan, mudah tersinggung dan susah tidur bisa diberikan anti-depresi. E. POLA MAKAN SEHAT MENUJU MENOPAUSE Menopause merupakan peristiwa alami dalam siklus kehidupan wanita. Untuk mencegah berbagai keluhan yang mungkin terjadi di masa menopause yang disebabkan oleh kekurangan hormon estrogen, pengaturan menu makanan yang tepat sedini mungkin adalah salah satu jawaban yang tepat untuk mengatasi kekurangan hormon estrogen pada tubuh. Hal ini merupakan alternatif alamiah, yaitu dengan mengkonsumsi ekstra estrogen yang banyak terkandung pada sejumlah bahan pangan. Sebuah menopause diet adalah waktu yang baik untuk membatasi makanan yang tidak begitu bagus untuk seorang wanita menuju masa menopause karena ransel di kalori dapat lebih mudah selama fase kehidupan ini dan faktor risiko jenis penyakit tertentu bisa naik. Tidak mengkonsumsi lemak berlebih dan tidak mengkonsumsi minuman beralkohol juga minuman berkafein, akan memelihara hati dan sistem kardiovaskular yang sehat dan membantu untuk mengurangi risiko kondisi seperti kanker dan diabetes. Ganti pilihan dengan pilihan yang lebih sehat seperti air mineral dan teh hijau tanpa kafein. Sayuran dan buah-buahan segar selalu penting untuk disertakan dalam setiap diet. Seorang wanita harus menjauhi makanan berlemak dan manis serta yang mengandung kafein atau apa pun yang benar-benar tidak memiliki nilai gizi. Ada senyawa alamiah dalam tumbuh-tumbuhan dan kacang-kacangan yang struktur kimianya mirip dengan hormon estrogen dan disinyalir akan menghasilkan efek seperti kerja estrogen. Senyawa tersebut disebut fitoestrogen. Bahan pangan yang kaya akan fitoestrogen adalah jenis kacang-kacangan terutama kacang kedelai, serta dapat ditemukan pada hampir semua jenis serealm sayuran, pepaya, dan tanaman lain yang kaya akan kalsium. Bahan pangan kaya fitoestrogen yang cocok digunakan untuk minuman segar antara lain tahu sutera. Bahan yang terbuat dari kacang kedelai ini memiliki tekstur yang sangat lembut, seperti krim kental, dapat menjadi pengganti aneka produk dari daging sapi dan minyak hewani.- Susu Kedelai. Susu yang terbuat dari kacang kedelai ini kaya zat fitoetrogen, sangat fleksibel diolah menjadi dessert yang mengugah selera. Dianjurkan pula mengkomsumsikan bengkuang, agar-agar rumput laut. F. OLAHRAGA TERATUR MENJELANG MENOPAUSE Berolahraga secara teratur banyak manfaatnya. Berolahraga memungkinkan untuk membakar lemak yang berlebih dengan lebih efisien. Dengan demikian, olahraga mambantu mengandalikan berat badan. Selain itu olahraga mempunyai manfaat sebagai berikut : 1. Meningkatkan fungsi kekebalan tibuh, serta kemampuan tubuh untuk menjaga kadar gula darah. 2. Menjaga kepadatan tulang. 3. Menjaga massa otot. 4. Membakar kalori lemak. 5. Mengurangi stress 6. Mengurangi gejala menopause misalnya meriang. 7. Membantu menjaga fleksibilitas dan kelenturan sendi sejalan dengan bertambahnya usia. BAB III P E N U T U P A. KESIMPULAN Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menopause bukanlah suatu yang menakutkan. Kedatangannya tidaklah menakutkan asalkan kita bisa mensikapinya dengan bijaksana & apabila terjadi keluhan-keluhan, kunjungilah dokter untuk mendapatkan terapinya. B. SARAN Menjadi tua dan keriput memang hal yang sering ditakuti oleh para wanita. Namun, hal ini bukan berarti wanita kehilangan identitas kewanitaannya. Justru seharusnya sadar bahwa wanita yang mengalami masa menopause memulai fase kehidupan baru sebagai wanita yang matang dalam berpikir. Namun, memang tidak dapat dipungkiri bahwa saat memasuki masa menopause akan terjadi perubahan fisik dan emosi. Oleh karena itu, masa menopause merupakan masa yang membutuhkan penyesuaian diri dan pengertian dari berbagai pihak, terutama keluarga. Selain hal tersebut penting diingat bahwa gaya hidup kita semasa muda sangat mempengaruhi gejala menopause yang akan dirasakan kelak. Berikut beberapa tips supaya tetap sehat saat memasuki masa menopause nanti, yaitu : 1. Tidak merokok (bila merokok cobalah untuk berhenti), 2. Tidak minum alkohol, 3. Sering berolah raga secara teratur, 4. Makan makanan yang sehat (terutama yang bersumber dari kacang kedelai sebagai sumber fitoestrogen) 5. Cukup terkena cahaya matahari. DAFTAR PUSTAKA http//Keluarga Berencana.com / featured / sekilas - mengenai - menopause.html http//Creasoft.wordpree.com / 2009 /04 /07 /pengertian - menopause / Dr. Hj. Hardiko, Siti Rahayu. 2007. Menopause Tanpa Stress. Jakarta, Penerbit Sunda Kelapa Pustaka. Baziad,Ali.2003.Menopause dan Andropause.Jakarta.Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

makalah infeksi

BAB I PENDAHULUAN A. latar belakang Kesehatan yang baik tergantung pada lingkungan yang aman.Praktisiatau teknisi yang memantau untuk mencegah penularan infeksi membantu melindungi klien dan pekerja keperawatan kesehatan dari penyakit.Klien dalam lingkungan keperawatan beresiko terkena infeksi karena daya tahan yang menurun terhadap mikroorganisme infeksius,meningkatnya pajanan terhadap jumlah dan jenis penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme dan prosedur invasif dalam fasilitas perawatan akut atau ambulatory,klien dapat terpajan pada mikroorganisme baru atau berbeda,yang beberapa dari mikroorganisme tersebut daaapat saja resisten terhadap banyak antibiotik.Dengan cara mempraktikan teknik pencegahan dan penembalian infeksi perawat dapat menghindarkan penyebaran mikroorganisme terhadap klien. B. Tujuan 1. Mengetahui definisi infeksi 2. Mengetahui rantai dan proses infeksi 3. Mengetahui infeksi nosokomial C. Rumusan Masalah Mengetahui lebih detail tentang infeksi BAB II PEMBAHASAN A. Definisi Infeksi merupakan invasi tubuh oleh patogen atau mikroorganisme yang mampu menyebabkan sakit.Infeksi juga disebut asimptomatik apabila mikroorganisme gagal dan menyebabkan cedera yang serius terhadap sel atau jaringan.Penyakitb akan timbul jika patogen berbiak dan menyebabakan perubahan pada jaringan normal.(Potter & perry .Fundamental Keperawatan.edisi 4.hal : 933 – 942:2005) Infeksi merupakan infeksi dan pembiakan mikroorganisme pada jaringan tubuh,terutama yang menyebabkan cedera sellular lokal akibat kompetisi metabolisme,toksin,replikasi intra selular,atau respon antigen-antibodi(Kamus Saku Kedokteran Dorland,edisi 25.hal :555:1998) B. Rantai Infeksi Perkembangan infeksi terjadi dalam siklus yang bergantung pada elemen – elemen berikut : 1. Agen infeksius atau pertumbuhanm patogen 2. Tempat atau sumber pertumbuhan patogen 3. Portal keluar dari tempat tumbuh tersebut 4. Cara penularan 5. Portal masuk pejamu 6. Pejamu yang rentan SKEMA RANTAI INFEKSI Agen infeksius Pejamu Reservoar Portal masuk Portal keluar Cara penularan 1. Agen Infeksius Infeksi terjadi akibat adanya mikroorganisme,termasuk bakteri,virus,jamur dan protozoa.Mikroorganisme di kulit dapat merupakan flora residen atau transien.Organisme residen berkembang biak pada lapisan kulit superfisial,namun 10 – 20% mendiami lapisan epidermal.Organisme transien melekat pada kulit saat seseorang kontak dengan orang atau objek lain dalam aktifitas atau kehidupan normal. Kemungkinan bagi mikroorganisme atau parasit untuk menyebabkan penyakit bergantung pada faktor – faktor berikut : a. Organisme dalam jumlah yang cukup b. Virulensi atau kemampuan untuk menyebabkan sakit c. Kemampuan untuk masuk dan hidup dalam pejammu d. Pejamu yang rentan Beberapa agen yang dapat menyebabkan infeksi,yaitu : 1) Bakteri Bakteri dapat ditemukan sebagai flora normal dalam tubuh manusia yang sehat.Keberadaan bakteri disini sangat penting dalam melindungi tubuh dari datangnya bakteri patogen.Tetapi pada beberapa kasus dapat menyebabkan infeksi jika manusia tersebut meniliki toleransi yang rendah terhadap miikrooorganisme.Cintohnya Escherechia coli paling banyak dijumpai sebagai penyebab infeksi saluran kemih. Bakteri patogen lebih berbahaya dan menyebabkan infeksi secara aparodik maupun endemik. Contohnya :anaerobik Gram–positif,Clostridium yang menyebabkan gangren (a) Bakteri Gram-positif : Staphylococcus aureus yang menjadi parasit di kulit dan hidung dapat menyebabkan gangguan pada paru,tulang,jantung dan infeksi pembuluh darah serta seringkali telah resisten terhadap antibiotika. (b) Bakteri Gram-negatif : Enerobacteriacae,contohnya Escherechia coli,Proteus,Klebsiella,Enterobacter.Pseudomonas seringkali ditemukan di air dan penampungan air yang menyebabkan infeksi di saluran pencernaan pasien yang dirawat.Bakteri gram negatif ini bertanggung jawab sekitar setengah dari semua infeksi di rumah sakit. (c) Serratia marcescens,dapat menyebabkan infeksi serius pada luka bekas jahitan,paru dan peritoneum. 2) Virus Banyak kemungkinan infeksi nosokomial disebabkan oleh berbagai macam virus,termasuk virus hepatitis B dan C dengan media penularan dari tranfusi,dialisis,suntikan dan endoskopi.Respiratory syncytial virus (RSV),rotavirus dan enterovirus yang ditularkan dari kon\tak tangan ke mulut atau melalui rute faecal-oral.Hepatitis dan HIV ditularkan melalui pemakaian jarum suntik,dan trasfusi darah.Rute penularan untuk virus sama seperti mikroorganisme lainnya.Infeksi gastrointestinal,infeksi traktus respiratorius,penyakit kulit dan dari darah.Virus lain yang sering menyebabkan infeksi nosokomial adalah cytomegalovirus,Ebola,influenza virus,herpes simplex virus,dan varicella-zoster virus,juga dapat ditularkan. 3) Parasit dan Jamur Beberapa parasit seperti Giardia lamblia dapat dengan mudah menular ke orang dewasa maupun anak-anak.Banyak jamur dan parasit dapat timbul selama pemberian obat antibiotika bakteri dan immunosupresan,contohnya infeksi dari Candida albicans,Aspergiilus spp,Cryptococcus neformans,Cryptosporidium. 2. Reservoar Reservoar adalah tempat patogen mampu bertahan hidup tetapi dapat atau tidak berkembang biak.Rservoir yang paling umum adalah tubuh manusia.Berbagai mirroorganisme hidup pada kulit dan dalam rongga tubuh,cairan dan keluaran.Untuk berkembang biak dengan cepat mkroorganismer memerlukan lingkungan yang sesuai,termasuk makanan,oksigen,air,suhu yang tepat,pHdan cahaya. a. Makanan,mikroorganisme memerlukan untuk hidup,seperti Clostridium perfringens,mikroba yang menyebabkan gangren gas,berkembang pada materi organik lain,seperti E.coli mengkonsumsi makanan yang tidak dicerna di usus.Organisme lain mendapat makanan dari karbondioksida dan materi organik seperti tanah. b. Oksigen,bakteri aerob memerlukan oksigen untuk bertahan hidup dan multiplikasi secukupnya untuk menyebabkan sakit.Contohnya adalah Staphylococcus aureus dan turunan organisme Streptococccus sedangkan bakteri anaerob berkembang biak ketika terdapat atau tidak ada tersedia oksigen bebas.Bakteri ini yang mampu menyebabkan tetanus,gas gangrene dan botulisme. c. Air,kebanyakan mkroorganisme membutuhkan air atau kelembaban untuik bertahan hidup.Dan ada juga beberapa bakteri yang berubah bentuk,disebut dengan spora,yang resisten terhadap kekeringan. d. Suhu,mikroorganisme dapat hidup hanya dalam batasan suhu terentu.Namun beberapa dapat hidup dalam temperatur yan g ekstrem yang mungkin fatal bagi manusia.Misalnya virus AIDS,resisten terhadap air mendidih. e. pH,keasaman suatu lingkungan menentukan kemampuan hidup suatu mikroorganisme.Kebanyakan organisme lebih menyukai lingkungan dalam batasan pH 5-8. f. Cahaya,mikroorganisme berkembang pesat dalam lingkungan yang gelap seperti di bawah balutan dan dalam rongga tubuh.Sinar ultra violet dapat eektif untuh membunuh beberapa bentuk bakteri. 3. Portal Keluar Setelah mikroorganisme menemukan tempat untuktumbuh dan berkembang biak,mereka harus menemukan jalan keluar jika mereka masuk ke pejamu lain dan menyebabkan penyakit. Mikroorganisme dapat keluar melalui berbagai tempatm,seperti kulit dan membran mukosa,traktus respiratoris,traktus urinarius,traktus gastrointestinal,traktus reproduktif dan darah. 4. Cara Penularan Ada banyak cara penularan mikroorganisme dari reservoar ke pejamu.Penyakit infeksius tertentu cenderung ditularkan secara lebih umum melalui cara yang spesifik.Namun,mikroorganisme yang sama dapat ditularkan melalui satu rute.Meskipun cara utama penularan mikroorganisme adalah tangan dari pemberi layanan kesehatan,hampir semua objek dalam lingkungan dapat menjadi alat penularan patogen.Semua personel rumah sakit yang memberi asuhan langsuing dan memberi pelayanan diagnostik dan pendukung harus mengikuti praktik untuk meminimalkan penyebaran infeksi. 5. Portal Masuk Organisme dapat masuk ke dalam tubuh melalui rute yang sama dengan yang digunakan untuk keluar.Misalnya,pada saat jarum yang terkontaminasi mengenai kulit klien,organisme masuk ke dalam tubuh.Setiap obstruksi aliran urine memungkinkan organisme untuk berpindah ke uretra.Kesalahan pemakaian balutan steril pada luka yang terbuka memungkinkan patogen memasuki jaringan yang tidak terlindungi.Faktor- faktor yang menurunkan daya tahabn tubuh memperbesar kesempatan patogen masuk ke dalam tubuh. 6. Hospes Rentan Seseorang terkena infeksi bergantung pada kerentanan dan bergantung pada derajat ketahanan individu terhadap patogen,meskipun seseorang secara konstan kontak dengan mikroorganisme dalam jumlah yang besar,infeksi tidak akan terjadi sampai individu rentan terhadapjumlah mikroorganisme tersebut.Makin banyak virulen suatu mikroorganisme makin besar didapati muncul di lingkungan perawatan akut. C. Proses Infeksi Infeksi terjadi secara progresif,berat ringannya penyakit klien tergantung pada tingkat infeksi,patogenesitas mikroorganisme dan kerentanan pejamu.Didalam proses infeksi memiliki tahapan tertentu yaitu : 1. Periode Inkubasi Interfal antara masuknya patogen dalam tubuh dan munculnya gejala utama. 2. Tahap Prodomal Interpal dari awitan tanda gejala non spesifik(malaise,demam ringan,keletihan)sampai gejala yang spesifik selama masa ini,mikroorganisme tumbuh dan berkembang biak dan klien mampu menularkan ke orang lain. 3. Tahap Sakit Interpal saat klien memanifestasikan tanda dan gejala yang lebih spesifik terhadap jenis infeksi. 4. Tahap Pemulihan Interpal saat munculnya gejala akut infeksi ,lama penyembuhannyatergantung pada beratnya infeksi dan keadaan umum kesehatan klien. D. Pertahanan Terhadap Infeksi Tubuh memiliki pertahanan normal terhadap infeksi,yaitu : 1. Flora Normal Flora normal tubuh dapat melindungi seseorang terhadap beberapa patogen,normalnya tubuh mengandung mikroorganisme yang ada pada lapisan permukaan dan di dalam kulit,saliva,mukosa oral,dan gastrointestinal. Flora normal dalam usus besar hidup dalam jumlah besar tanpa menyebabkan sakit.Flora normal juga mensekresi substansi antibakteri di dalam usus. 2. Pertahanan Sistem Tubuh Sejumlah sistem organ tubuh memiliki pertahanan tubuh yang unik terhadap mikroorganisme.Setiap sistem organ memiliki mekanisme pertahanan yang secara fisiologis disesuaikan dengan struktur dan fungsinya.Misalnya paru jalan masuk mikroorganisme dilapisi oleh tonjolan seperti rambut atay silia yang secara ritmis bergerak unruk memindahkan mukus dan organisme yang yang melekat di faring untuk di ekshalasi. 3. Respon Imun Saat mikroorganisme menginvasi memasuki tubuh,mikroorganisme tersebut diserang pertama kali oleh monosit.Sisa mikroorganisme tersebut kemudian memicu respon imun,materi yang tertinggal (antigen) menyebabkan kerentanan respon yang mengubah susunan biologis tubuh sehingga reaksi untuk paparan berikutnya berbeda dengan reaksi pertama ,respon yang berubah ini dikenal dengan respon imun. E. Infeksi Nosokomial Infeksi nosokomial disebabkan oleh pemberian layanan kesehatan dalam fasilitas keperawatan kesehatan,rumah sakit merupakan satu tempat yang paling mungkin terdapat infeksi karena populasi mikroorganisme yang tinggi dengan jenis virulen yang mungkin resisten terhadap antibiotik. Jenis infeksi nosokomial yaitu infeksi iantrogenik yang di akibatkan oleh prosedur diagnostik dan terapiutik.Contohnya infeksi traktus urinarius yang terjadi setelah infeksi kateter. Infeksi nosokomial dapat secara eksogen atau endogen Infeksi eksogen didapat dari mikroorganisme eksternal terhadap individu,yang bukan merupakan flora normal contohnya adalah organisme salmonella dan klostridiun tetani. Infeksi endogen dapat terjadi bila sebagian dari flora normal klien berubah dan terjadi pertumbuhan yang berlebihan. Contohnya adalah infeksi yang disebabkan oleh enterococcus,ragi dan streptococccus. F. PATOFISIOLOGI INFEKSI 1. Infeksi Penyakit menular ok. Interaksi hospes & mikroba yg tjd secara kebetulan a. Faktor hospes pd Infeksi 2. Syarat infeksi. organisme menular mampu : - melekat - menduduki - memasuki hospes - berkembang biak a. Infeksi. Pd Kulit & Mukosa Orofaring b. Kulit à pertahanan tubuh - Kulit utuh punya lapisan keratin/ lap tanduk Luka pada kulit infeksi - Dekontaminasi - Flora normal 3. Pada lapisan Mulut dan faring ~ kulit a. Saluran Pencernaan- Keasaman lambung àtdk sesuai utk mikroorganisme- Lambung cepat memindahkan isinya ke usus.- Antibodi pada usus halus àbakteri sulit melekat pd mukosa- Flora normal b. Saluran Pernafasan Epitel saluran pernafasan: - Mengeluarkan mukosa - Mgd silia à mengeluarkan benda asing - Sawar Pertahanan lain - Saluran kemih Epitel berlapis Desakan utuk mengeluarkan kemih - Konjungtiva Mekanis Lap. Air mata 4. Radang Sebagai Pertahanan a. Faktor Jasad Renik Pada Infeksi b. Daya Transmisi - Pemindahan secara langsung Misal : batuk, bersin, berciuman - Secara tidak langsung mll udara, tanah Transfusi darah, jarum suntik mll serangga Daya invasi Utk menimbulkan inf, jasad renik hrs mampu bertahan pd hospes o Kemampuan menimbulkan penyakit - Eksotoksin yg larut à sirkulasi à perubahan fisiologis - Bakteri gram (-) mgd endotoksin à ??? à demam 5. Cara Interaksi Hospes & Jasad Renik a. Komensalisme Hospes & agen menular tidak saling menyerang b. Mutualisme Interaksi tsb menguntungkan keduanya 6. Infeksi Oportunistik Organisme yg tidak berpengaruh pd individu sehat àlingk. Salah àpenyakit Contoh: a. Pd RS à pend. Ggn gizi à inf. b. Lekemi c. Kortikosteroid. dll G. TANDA- TANDA GEJALA INFEKSI Apa Saja Tanda-tanda dan Gejala Infeksi Gejala dan Tanda-tanda Infeksi - Luka sangat rentan terhadap infeksi baik dari virus, bakteri maupun jamur. Namun terkadang kita tidak menyadari kapan infeksi mulai terjadi pada luka sehingga setelah infeksi sudah sangat parah kita baru tahu karena menimbulkan masalah kesehatan sehingga kita harus merogoh uang lebih banyak untuk mengobatinya. Untuk itu kita perlu mengetahui gejala atau tanda-tanda awal dari infeksi yaitu dolor, kalor, rubor, tumor dan fungsio laesa. Wah... apaan tu ? Mari kita bahas satu-satu. Dolor Dolor adalah rasa nyeri, nyeri akan terasa pada jaringan yang mengalami infeksi. Ini terjadi karena sel yang mengalami infeksi bereaksi mengeluarkan zat tertentu sehingga menimbulkan nyeri. Rasa nyeri mengisyaratkan bahwa terjadi gangguan atau sesuatu yang tidak normal [patologis] jadi jangan abaikan rasa nyeri karena mungkin saja itu sesuatu yang berbahaya. Kalor Kalor adalah rasa panas, pada daerah yang mengalami infeksi akan terasa panas. Ini terjadi karena tubuh mengkompensasi aliran darah lebih banyak ke area yang mengalami infeksi untuk mengirim lebih banyak antibody dalam memerangi antigen atau penyebab infeksi. Tumor Tumor dalam kontek gejala infeksi bukanlah sel kanker seperti yang umum dibicarakan tapi pembengkakan. Pada area yang mengalami infeksi akan mengalami pembengkakan karena peningkatan permeabilitas sel dan peningkatan aliran darah. Rubor Rubor adalah kemerahan, ini terjadi pada area yang mengalami infeksi karena peningkatan aliran darah ke area tersebut sehingga menimbulkan warna kemerahan. Fungsio Laesa Fungsio laesa adalah perubahan fungsi dari jaringan yang mengalami infeksi. Contohnya jika luka di kaki mengalami infeksi maka kaki tidak akan berfungsi dengan baik seperti sulit berjalan atau bahkan tidak bisa berjalan. Jika infeksi sudah cukup lama maka akan timbuh nanah [pes]. Nanah terbentuk karena "perang" anatara antibody dengan antigen sehingga timbullah nanah, jika ditenggorokan disebut dahak [batuk berdahak]. Dengan pemeriksaan nanah/dahak ini kita bisa mengetahui jenis antigen yang menyebabkan infeksi. Bagaimana jelaskan apa saja tanda-tanda infeksi - Gejala dan Tanda-tanda Infeksi. BAB IIII PENUTUP KESIMPULAN 1. Faktor- faktor yang menyebabkan perkembangan infeksi tergantung dari agen yang menginfeksi, respon dan toleransi tubuh, faktor lingkungan, resistensi antibiotika, dan faktor alat. 2. Agen Infeksi yang kemungkinan terjadinya infeksi tergantung pada: karakteristik mikroorganisme, resistensi terhadap zat-zat antibiotika, tingkat virulensi, dan banyaknya materi infeksius. Respon dan toleransi tubuh pasien dipengaruhi oleh: Umur, status imunitas penderita, penyakit yang diderita, obesitas dan malnutrisi, orang yang menggunakan obat-obatan immunosupresan dan steroid, intervensi yang dilakukan pada tubuh untuk melakukan diagnosa dan terapi. Faktor lingkungan dipengaruhi oleh padatnya kondisi rumah sakit, banyaknya pasien yang keluar masuk, penggabungan kamar pasien yang terkena infeksi dengan pengguna obat-obat immunosupresan, kontaminasi benda, alat, dan materi yang sering digunakan tidak hanya pada satu orang pasien. Resistensi Antibiotika disebabkan karena: Penggunaan antibiotika yang tidak sesuai dan tidak terkontrol, dosis antibiotika yang tidak optimal, terapi dan pengobatan menggunakan antibiotika yang terlalu singkat, dan kesalahan diagnosa. Faktor alat, dipengaruhi oleh pemakaian infus dan kateter urin lama yang tidak diganti-ganti. DAFTAR PUSTAKA Iriyanto, koes .2006. Mikrobiologi. Margahayu Permai Bandung.hal 109-120 Olmsted RN. APIC Infection Control and Applied Epidemiology: Principles and Practice. St.LouisMosby:1996. Pohan, HT. Current Diagnosis and Treatment in Internal Medicine. Pusat Informasi dan Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, Jakarta;2004. Soeparman, dkk. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Balai Penerbit FKUI, Jakarta; 2001. http://nirwan-anwarcom.blogspot.com/2009/04/patofisiologi-infeksi.html

makalah Perilaku Seks Menyimpang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia tidak selamanya lurus dan normal, oleh karena itu pasti ada saja yang memiliki kecenderungan tidak normal/tidak wajar dalam menjalani hidup di dunia. Salah satu ketidakwajaran manusia dapat dilihat dari perilaku seksual menyimpang yang ada pada dirinya. Kelainan seks terjadi pada batin atau kejiwaan seseorang walaupun dari segi fisik penderita penyakit seks batin tersebut sama dengan orang-orang normal yang lain. Bentuk-bentuk penyimpangan seks tersebut tidak selamanya ditolak oleh lingkungan masyarakat di sekitarnya. Ada wilayah-wilayah yang melegalkan ketidak normalan aktivitas seks yang terjadi dan ada pula yang melakukan penolakan secara tegas setiap bentuk kelainan seksual.oleh karena hal tersebut kami membuat makalah dengan judul “perilaku seks menyimpang”. B. Rumusan Masalah 1. Apa maksud dari perilaku seks menyimpang? 2. Apa macam-macam bentuk seks menyimpang? 3. Factor apa yang menyebabkan seks menyimpang? 4. Akibat apa yang ditimbulkan akibat seks menyimpang? 5. Bagaimana cara mengatasi seks menyimpang? C. Tujuan 1. Mengetahui macam-macam perilaku seks menyimpang. 2. Mengetahui factor yang menyebabkan seks menyimpang. 3. Mengetahui akibat yang ditimbulkan akibat seks menyimpang. 4. Mengetahui cara mengatasi perilaku seks menyimpang. BAB II PEMBAHASAN A. Perilaku Seks Menyimpang Manusia tidak selamanya lurus dan normal, oleh karena itu pasti ada saja yang memiliki kecenderungan tidak normal/tidak wajar dalam menjalani hidup di dunia. Salah satu ketidakwajaran manusia dapat dilihat dari perilaku seksual menyimpang yang ada pada dirinya. Kelainan seks terjadi pada batin atau kejiwaan seseorang walaupun dari segi fisik penderita penyakit seks batin tersebut sama dengan orang-orang normal yang lain. Bentuk-bentuk penyimpangan seks tersebut tidak selamanya ditolak oleh lingkungan masyarakat di sekitarnya. Ada wilayah-wilayah yang melegalkan ketidak normalan aktivitas seks yang terjadi dan ada pula yang melakukan penolakan secara tegas setiap bentuk kelainan seksual. Untuk mengobati bentuk penyimpangan aktivitas seks diperlukan suatu bimbingan konseling yang baik, dukungan orang-orang terdekat serta peran serta masyarakat untuk memberantas segala bentuk penyimpangan seks yang tidak normal. B. Macam-macam /Jenis-jenis Penyimpangan Seksual: 1. Homoseksual / homo / homoseks Homoseksual adalah kelainan dimana seseorang menyukai orang lain sesama jenis. Pada laki-laki disebut gay (homo) dan pada wanita disebut lesbian atau lesbi. 2. Sadomasokisme dan masokisme Sadomasokisme adalah penyimpangan seksual yang mendapat kenikmatan seks setelah menyakiti pasangan seksnya. Sedangkan Masokisme adalah kelainan seks yang menikmati seks jika terlebih dahulu disiksa oleh pasangannya. 3. Eksibisionisme Masih ingat stiker tidak senonoh bergambar orang yang memperlihatkan pantatnya yang sempat ngetren beberapa waktu lalu? Itulah praktik eksibisionisme. Penyimpangan ini disebut juga apodisofilia ini merupakan penyimpangan seks di mana pelakunya senang memperlihatkan bagian tubuhnya yang seharusnya tertutup kepada orang lain. Penderita penyimpangan seksual ini akan suka dan terangsang jika orang lain takjub, terkejut, takut, jijik, dan lain sebagainya. 4. Onani atau masturbasi Nah ini dia yang sering dilakukan para remaja, Onani atau masturbasi sebenarnya berdefinisi sama, yaitu merangsang alat kelamin sendiri baik dengan tangan maupun alat bantu sehingga mencapai kepuasan seksual atau sampai keluar sperma. Ada yang berpendapat bahwa sebutan onani khusus untuk praktek begituan yang dilakukan laki-laki, sedangkan masturbasi adalah sebutan praktek begituan untuk kedua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan. 5. Fetishisme Adalah suatu penyimpangan seksual di mana pelakunya suka menyalurkan nafsu seksnya dengan cara beronani dengan benda-benda mati seperti gaun, pipa, bola lampu, dan sebagainya. 6. Voyeurisme Pelaku penyimpangan seks ini mendapat kepuasan seksual dengan melihat diam-diam atau mengintip orang lain (baik sejenis kelamin atau tidak) yang sedang telanjang, menanggalkan pakaian, atau melakukan hubungan seksual. Kelainan ini disebut juga skopofilia. Anehnya, pelaku voyeurisme sama sekali tidak mengiginkan berhubungan seksual dengan orang yang diintip. Ia cuma berharap memperoleh kepuasan orgasme dengan cara masturbasi selama atau sesudah mengintip. Berbeda dengan orang yang normal, penderita voyeurisme sudah terpuaskan tanpa harus melakukan senggama. Nggak seperti anggapan orang, voyeurisme tidak dapat dilekatkan kepada penggemar film dan pertunjukan porno, karena para pemain film itu dengan sengaja menghendaki dan menyadari bahwa mereka akan ditonton orang lain. Sebutan voyeurisme hanya berkaitan dengan intip-mengintip. Voyeurisme sejati tidak akan terangsang jika melihat seseorang yang tidak berpakaian dihadapannya. Mereka hanya terangsang dengan melakukan pengitipan. Dengan mengintip mereka mampu mempertahankan keunggulan seksual tanpa mengalami resiko kegagalan atau penolakan dari pasangan yang nyata. 7. Pedofilia adalah kondisi orang yang mempunyai ketertarikan atau hasrat seksual terhadap anak-anak yang belum memasuki masa remaja. Istilah ini seringkali ditujukan kepada orang-orang dewasa yang memiliki kondisi ini. Kadang istilah ini juga digunakan untuk merujuk kepada pelaku pelanggaran seksual kepada anak-anak. 8. Gerontofilia Gerontofilia adalah suatu perilaku penyimpangan seksual dimana sang pelaku tertarik dan mencari kepuasan kepada orang yang sudah berusia lanjut alias nenek-nenek atau kakek-kakek. 9. Bestialitas/Zoophilia adalah hubungan seksual antara manusia dengan binatang, contohnya manusia dengan kuda, anjing, sapi, kambing, ayam, bebek, kucing, babi, simpanse. Jika bestialitas adalah sebutan untuk aktivitas seksualnya, maka kecenderungan atau ketertarikan seksual manusia terhadap binatang disebut zoofilia. 10. Nekrofilia adalah penyimpangan seksual dimana pelakunya suka melakukan hubungan seks dengan orang mati atau mayat. Dalam bahasa Yunani, nekro berarti mayat. Kelainan ini disebut juga thanatofilia atau necrolagnia. Beberapa kebudayaan kuno melakukan beginian sebagai media berkomunikasi dengan jin. Sebagian ilmu sihir asli negeri ini juga mensyaratkan praktik menjijikkan ini juga. Dalam lintasan sejarah, tercatat Sersan Bertrand dari resimen ke-74 militer Prancis pernah membongkar kuburan beberapa wanita dan berhubungan seks dengan mayat wanita itu. Guido Henckel von Donnersmarck (mati 1916 M) juga diduga melakukannya dengan mayat istri pertamanya yang ia simpan dalam tangki alkohol raksasa. Ada juga orang bernama Henri Blot yang membongkar kuburan seorang penari balet, Fernande Mery, pada Maret dan Juni 1886M dan berhubungan seks dengan mayat itu. 11. Frotteurisme merupakan kelainan seksual dimana pelakunya mendapatkan kepuasan seks dengan jalan menggesek-gesekkan bagian tubuhnya ke orang lain di tempat umum seperti kereta, pesawat, bis, atau konser musik. Aksi gesek-menggesek ini biasanya dilakukan dengan tangan atau juga dengan alat kelamin yang dikenakan pada sembarang tubuh korban, termasuk pada area kelamin korban. Mayoritas pelakunya adalah laki-laki dan kebanyakan korbannya adalah perempuan, walau ada juga perempuan yang melakukannya kepada laki-laki atau laki-laki kepada sesamanya. Orang dewasa yang melakukannya ke anak kecil juga ada. 12. ZINA adalah hubungan seksual yang dilakukan dengan orang yang bukan pasangan sah-nya, alias bukan suaminya atau bukan istrinya. Dengan definisi ini, sepasang remaja yang belum menikah jika nge-seks maka mereka disebut berzina. Seorang pria yang nge-seks sama wanita yang bukan istrinya juga disebut berzina. Ini juga termasuk incest, alias hubungan sedarah, atau hubungan seks sesame anggota keluarga sendiri non suami-istri seperti antara ayah dengan anak ceweknya, ibu dengan anak cowoknya, kakak dengan adiknya. 13. Incest Adalah hubungan seks dengan sesama anggota keluarga sendiri non suami istri seperti, antara ayah dan anak perempuan dan ibu dengan anak laki-laki. 14. Sodomi Sodomi adalah pria yang suka berhubungan seks melalui dubur pasangan seks baik pasangan sesame jenis (homo), maupun dengan pasangan perempuan. C. Factor-faktor Terjadinya Perilaku Seks Menyimpang Menurut Wilnes dalam bukunya Punishment and Reformation sebab-sebab penyimpangan/kejahatan dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut : 1. Faktor subjektif (instrinstik) adalah faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri (sifat pembawaan yang dibawa sejak lahir). 2. Faktor objektif(ekstrinsik) adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan). Misalnya keadaan rumah tangga, seperti hubungan antara orang tua dan anak yang tidak serasi. Untuk lebih jelasnya, berikut diuraikan beberapa penyebab terjadinya penyimpangan seorang individu (faktor objektif), yaitu: 1. Ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan.Seseorang yang tidak sanggup menyerap norma-norma kebudayaan ke dalam kepribadiannya, ia tidak dapat membedakan hal yang pantas dan tidak pantas. Keadaan itu terjadi akibat dari proses sosialisasi yang tidak sempurna, misalnya karena seseorang tumbuh dalam keluarga yang retak (broken home). Apabila kedua orang tuanya tidak bisa mendidik anaknya dengan sempurna maka anak itu tidak akan mengetahui hak dan kewajibannya sebagai anggota keluarga. 2. Proses belajar yang menyimpang. Seseorang yang melakukan tindakan menyimpang karena seringnya membaca atau melihat tayangan tentang perilaku menyimpang. Hal itu merupakan bentuk perilaku menyimpang yang disebabkan karena proses belajar yang menyimpang. karier penjahat kelas kakap yang diawali dari kejahatan kecil-kecilan yang terus meningkat dan makin berani/nekad merupakan bentuk proses belajar menyimpang. 3. Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial. Terjadinya ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial dapat mengakibatkan perilaku yang menyimpang. Hal itu terjadi jika dalam upaya mencapai suatu tujuan seseorang tidak memperoleh peluang, sehingga ia mengupayakan peluang itu sendiri, maka terjadilah perilaku menyimpang. 4. Ikatan sosial yang berlainan. Setiap orang umumnya berhubungan dengan beberapa kelompok. Jika pergaulan itu mempunyai pola-pola perilaku yang menyimpang, maka kemungkinan ia juga akan mencontoh pola-pola perilaku menyimpang. 5. Akibat proses sosialisasi nilai-nilai sub-kebudayaan yang menyimpang. Seringnya media massa menampilkan berita atau tayangan tentang tindak kejahatan (perilaku menyimpang) Hal inilah yang dikatakan sebagai proses belajar dari sub-kebudayaan yang menyimpang. D. Usaha-usaha pencegahan 1. Sikap dan pengertian orang tua Pencegahan abnormalitas masturbasi sesungguhnya bias secara optimal diperankan oleh orang tua. Sikap dan reaksi yang tepat dari orang tua terhadap anaknya yang melakukan masturbasi sangat penting. Di samping itu, orang tua perlu memperhatikan kesehatan umum dari anak-anaknya juga kebersihan di sekitar daerah genitalia mereka. Orang tua perlu mengawasi secara bijaksana hal-hal yang bersifat pornografis dan pornoaksi yang terpapar pada anak. Menekankan kebiasaan masturbasi sebagai sebuah dosa dan pemberian hukuman hanya akan menyebabkan anak putus asa dan menghentikan usaha untuk mencontohnya. Sedangkan pengawasan yang bersifat terang-terangan akan menyebabkan sang anak lebih memusatkan perhatiannya pada kebiasaan ini, dan kebiasaan ini bias jadi akan menetap. Orang tua perlu memberikan penjelasan seksual secara jujur, sederhana dan terus terang kepada anaknya pada saat-saat yang tepat berhubungan dengan perubahan-perubahan fisiologik seperti adanya ereksi, mulai adanya haid dn fenomena sexual secunder lainnya. Secara khusus, biasanya anak remaja melakukan masturbasi jika punya kesempatan melakukannya. Kesempatan itulah sebenarnya yang jadi persoalan utama. Agar tidak bermasturbasi, hendaklah dia (anak) jangan diberi kesempatan untuk melakukannya. Kalau bisa, hilangkan kesempatan itu. Masturbasi biasanya dilakukan di tempat-tempat yang sunyi, sepi dan menyendiri. Maka, jangan biarkan anak untuk mendapatkan kesempatan menyepi sendiri. Usahakan agar dia tidak seorang diri dan tidak kesepian. Beri dia kesibukan dan pekerjaan menarik yang menyita seluruh perhatiannya, sehingga ia tidak teringat untuk pergi ke tempat sunyi dan melakukan masturbasi. Selain itu, menciptakan suasana rumah tangga yang dapat mengangkat harga diri anak, hingga ia dapat merasakan harga dirinya. Hindarkan anak dari melihat, mendengar dan membaca buku-buku dan gambar-gambar porno. Suruhlah anak-anak berolah raga, khususnya olah raga bela diri, yang akan menyalurkan kelebihan energi tubuhnya. Atau membiasakan mereka aktif dalam organisasi kepemudaan dan keolahragaan. 2. Pendidikan seks Sex education (pendidikan seks) sangat berguna dalam mencegah remaja pada kebiasaan masturbasi. Pendidikan seks dimaksudkan sebagai suatu proses yang seharusnya terus-menerus dilakukan sejak anak masih kecil. Pada permulaan sekolah diberikan sex information dengan cara terintegrasi dengan pelajaran-pelajaran lainnya, dimana diberikan penjelasan-penjelasan seksual yang sederhana dan informatif. Pada tahap selanjutnya dapat dilanjutkan dengan diskusi-diskusi yag lebih bebas dan dipimpin oleh orang-orang yang bertanggung jawab dan menguasai bidangnya. Hal penting yang ingin dicapai dengan pendidikan seks adalah supaya anak ketika sampai pada usia adolescent telah mempunyai sikap yang tepat dan wajar terhadap seks. E. Pengobatan Biasanya anak-anak dengan kebiasaan masturbasi jarang dibawa ke dokter, kecuali kebiasaan ini sangat berlebihan. Masturbasi memerlukan pengobatan hanya apabila sudah ada gejala-gejala abnormal, bias berupa sikap yang tidak tepat dari orang tua yang telah banyak menimbulkan kecemasan, kegelisahan, ketakutan, perasaan bersalah/dosa, menarik diri atau adanya gangguan jiwa yang mendasari, seperti gangguan kepriadian neurosa, perversi maupun psikosa. 1. Farmakoterapi a. Pengobatan dengan estrogen (eastration) Estrogen dapat mengontrol dorongan-dorongan seksual yang tadinya tidak terkontrol menjadi lebih terkontrol. Arah keinginan seksual tidak diubah. Diberikan peroral.Efek samping tersering adalah ginecomasti. b. Pengobatan dengan neuroleptik 2. Phenothizine Memperkecil dorongan sexual dan mengurangi kecemasan.Diberikan peroral. 3. Fluphenazine enanthate Preparat modifikasi Phenothiazine. Dapat mengurangi dorongan sexual lebih dari dua-pertiga kasus dan efeknya sangat cepat. Diberikan IM dosis 1cc 25 mg. Efektif untuk jangka waktu 2 pekan. 4. Pengobatan dengan trnsquilizer Diazepam dan Lorazepam berguna untuk mengurangi gejala-gejalan kecemasan dan rasa takut. Perlu diberikan secara hati-hati karena dalam dosis besar dapat menghambat fungsi sexual secara menyeluruh. Pada umumnya obat-obat neuroleptik dan transquilizer berguna sebagai terapi adjuvant untuk pendekatan psikologik. 5. Psikoterapi Psikoterapi pada kebiasaan masturbasi mesti dilakukan dengan pendekatan yang cukup bijaksana, dapat menerima dengan tenang dan dengan sikap yang penuh pengertian terhadap keluhan penderita. Menciptakan suasana dimana penderita dapat menumpahkan semua masalahnya tanpa ditutup-tutupi merupakan tujuan awal psikoterapi. Pada penderita yang datang hanya dengan keluhan masturbasi dan adanya sedikit kecemasan, tindakan yang diperlukan hanyalah meyakinkan penederita pada kenyataan yang sebenarnya dari masturbasi. Pada kasus-kasus adolescent, kadang-kadang psikoterapi lebih kompleks dan memungkinkan dilakukan semacam interview sex education. Psikotherapi dapat pula dilakukan dengan pendekatan keagamaan dan keyakinan penderita. 6. Hypnoterapi Self-hypnosis (auto-hypnosis) dapat diterapkan pada penderita dengan masturbasi kompulsif, yaitu dengan mengekspose pikiran bawah sadar penderita dengan anjuran-anjuran mencegah masturbasi. 7. Genital Mutilation (Sunnat) Ini merupakan pendekatan yang tidak lazim dan jarang dianjurkan secara medis.Pada beberapa daerah dengan kebudayaan tertentu, dengan tujuan mengurangi/membatasi/meniadakan hasrat seksual seseorang, dilakukan mutilasi genital dengan model yang beraneka macam. 8. Menikah Bagi remaja/adolescent yang sudah memiliki kesiapan untuk menikah dianjurkan untuk menyegerakan menikah untuk menghindari/mencegah terjadinya kebiasaan masturbasi. BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Faktor yang mempengaruhi terjadinya penyimpangan seksual secara garis besar adalah: Faktor subjektif (instrinstik) adalah faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri (sifat pembawaan yang dibawa sejak lahir). Faktor objektif(ekstrinsik) adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan). Misalnya keadaan rumah tangga, seperti hubungan antara orang tua dan anak yang tidak serasi. B. SARAN Kita sebaiknya menghindari hal-hal yang bias menyebabkan perilaku seks yang menyimpang,dengan menghargai norma-norma yang berlaku,serta membentengi diri dengan iman yang kuat dengan mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Kita juga harus membantu memberantas dan mencegah perilaku seks yang menyimpang. DAFTAR PUSTAKA Davidson, Geral C., Neale, John M., ( 2001 ). Abnormal psychology. 8th edition. NewYork: John Wiley & Sons Fausiah, Fitri.2005.Psikologi Abnormal Klinis Dewasa.Universitas Indonesia:Jakarta Kartono, Kartini.1989.Psikologi Abnormal Dan Abnormalitas Seksual.Mandar Maju:Bandung Neale, John M., Davidson, Gerald C., Haaga, David A. F. ( 1996 ). Exploring Abnormal Psychology. New York: John Wiley & Sons.

makalah Suhu tubuh manusia

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Suhu tubuh adalah suatu keadaan kulit dimana dapat diukur dengan menggunakan thermometer yang dapat di bagi beberapa standar penilaian suhu, antara lain : normal, hipertermi, hipotermi, dan febris.Suhu tubuh kita sering kali berubah-ubah tanpa kita tau sebab-sebabnya dan mekanismenya,dikarenakan hal tersebut dalam makalah ini kami akan membahas tentang mekanisme perubahan suhu tubuh. B. Rumusan masalah 1. Bagaimana mekanisme perubahan suhu tubuh pada manusia? 2. Dari mana asal panas pada tubuh manusia? 3. Bagaimana system pengaturan suhu tubuh? 4. Apa fungsi dari reseptor suhu? 5. Bagaimana penjalaran sinyal suhu tubuh pada system saraf? 6. Apa factor yang mempengaruhi suhu tubuh? 7. apa saja yang mengganggu pengaturan suhu tubuh? C. Tujuan 1. Menambah pengetahuan dan wawasan mahasiswa tentang mekanisme perubahan suhu tubuh. 2. Dapat mengetahui tentang asal panas suhu tubuh manusia, system pengaturan suhu tubuh, reseptor suhu, penjalaran sinyal suhu tubuh pada system saraf. 3. Mengetahui tentang faktor yang mempengaruhi suhu tubuh serta gangguan suhu suhu tubuh. BAB II PEMBAHASAN A. ASAL PANAS PADA TUBUH MANUSIA Pembentukan panas (heat production) dalam tubuh manusia bergantung pada tingkat metabolisme yang terjadi dalam jaringan tubuh tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh: 1. BMR, terutama terkait dengan sekresi hormon tiroid. 2. Aktivitas otot, terjadi penggunaan energi menjadi kerja dan menghasilkan panas. 3. Termogenesis menggigil (shivering thermogenesis); aktivitas otot yang merupakan upaya 4. Termogenesis tak-menggigil (non-shivering thermogenesis) Hal ini terjadi pada bayi baru lahir. Sumber energi pembentukan panas ini ialah brown fat. Pada bayi baru lahir, brown fat ditemukan pada skapula, aksila, dan area ginjal. Brown fat berbeda dengan lemak biasa, ukurannya lebih kecil, mengandung lebih banyak mitokondria, banyak dipersarafi saraf simpatis, dan kaya dengan suplai darah. Stimulasi saraf simpatis oleh suhu dingin akan meningkatkan konsentrasi cAMP di sel brown fat, yang kemudian akan mengativasi fosforilasi oksidatif di mitokondria melalui lipolisis. Hasil dari fosforilasi oksidatif ialah terbentuknya panas yang kemudian akan dibawa dengan cepat oleh vena yang juga banyak terdapat di sel brown fat. Brown fat ini merupakan sumber utama diet-induced thermogenesis. Pengeluaran panas (heat loss) dari tubuh ke lingkungan atau sebaliknya berlangsung secara fisika. Permukaan tubuh dapat kehilangan panas melalui pertukaran panas secara radiasi, konduksi, konveksi, dan evaporasi air. Radiasi ialah emisi energi panas dari permukaan tubuh dalam bentuk gelombang elektromagnetik melalui suatu ruang. Konduksi ialah perpindahan panas antara obyek yang berbeda suhunya melalui kontak langsung obyek tersebut. Konveksi ialah perpindahan panas melalui aliran udara/ air. Evaporasi ialah perpindahan panas melalui ekskresi air dari permukaan kulit dan saluran pernapasan saat bernapas. Keseimbangan panas (Silverthorn, 2004) B. SISTEM PENGATURAN SUHU TUBUH Suhu tubuh adalah suatu keadaan kulit dimana dapat diukur dengan menggunakan thermometer yang dapat di bagi beberapa standar penilaian suhu, antara lain : normal, hipertermi, hipotermi, dan febris. Suhu dapat di bagi, antara lain: a) Suhu inti (core temperature) Suhu inti menggambarkan suhu organ-organ dalam (kepala, dada, abdomen) dan dipertahankan mendekati 37C. b) Suhu kulit (shell temperature) Suhu kulit menggambarkan suhu kulit tubuh, jaringan subkutan, batang tubuh. Suhu ini berfluktuasi dipengaruhi oleh suhu lingkungan. c) Suhu tubuh rata-rata (mean body temperature) merupakan suhu rata-rata gabungan suhu inti dan suhu kulit. Pengukuran suhu tubuh Ada beberapa macam thermometer untuk mengukur suhu tubuh: 1. The mercury-in-glass thermometer 2. The electrical digital reading thermometer 3. A radiometer attached to an auriscope-like head (untuk pengukuran suhu timfani) C. RESEPTOR SUHU Setimulus dapat datang dari lingkungan luar salinitas, suhu udara, kelembapan,cahaya. Alat penerima rangsang reseptor,sedangkan alat penghasil tanggapan disebut efektor. Reseptor saraf yang paling sederhana hanya berupa ujung denrit dari suatu sel syaraf (neuron) , tidak meliputi selubung / selaput myelin dan dapat di temukan pada reseptor rasa nyeri (free nerve ending) atau nociresetor. BERDASARKAN LOKASI SUMBER RANGSANG 1.INTERORESEPTOR adalah reseptor yang berfungsi untuk menerima rangsang dari dalam tubuh. KHEMORESEPTOR adalah reseptor yang berfungsi memantau pH,kadar gula dalam darah dan kadar kalsium dalam cairan tubuh atau darah. 2.EKSTERORESEPTOR adalah reseptor yang berfungsi menerima rangsang dari lingkungan di luar tubuh Reseptor penerima gelombang suara (pada alat pendengaran) dan cahaya (dalam alat pengelihatan). HUBUNGAN ANTARA RESEPTOR DENGAN EFEKTOR Dalam system syaraf,reseptor biasanya berhubungan dengan syaraf sensorik (AFFERENT) sedang efektor erat dengan syaraf motorik(EFERENT). Reseptor berfungsi sebagaipengubah energy, mengubah bentuk suatu energy menjadi bentuk tertentu. dan di dalam reseptor semua energy di ubah menjadi energy listrik dan selanjutnya akan membawa ke perubahan elektrolit sehingga timbul potensial aksi. LANJUTAN HUBUNGAN RESEKTOR DAN EFEKTOR Apabila suatu resektor menerima rangsangan yang sesuaimaka membrane reseptor akan mengalami peritiwa potensial aksi. Jika rangsangan yang diterima reseptor cukup kuat potensial reseptor yang timbul akan lebih kuat. Makin besar rangsangan yang di terima, makin besar pula potensial local yang di hasilkan sehingga dapat melampoi batas ambang perangsangan pada membrane potensial generator. D. PENJALARAN SINYAL SUHU TUBUH PADA SISTEM SARAF Pusat pengaturan suhu tubuh yang berfungsi sebagai termostat tubuh adalah suatu kumpulan neuron-neuron di bagian anterior hypothalamus yaitu: Preoptic area. Area ini menerima impuls-impuls syaraf dari termoreseptor dari kulit dan membran mukosa serta dalam hipotalamus. Neuron-neuron pada area peroptic membangkitkan impuls syaraf pada frekwensi tinggi ketika suhu darah meningkat dan frekwensi berkurang jika suhu tubuh menurun. Impuls-impuls syaraf dari area preoptic menyebar menjadi 2 bagian dari hipotalamus diketahui sebagai pusat hilang panas dan pusat peningkatan panas, dimana ketika distimulasi oleh area preoptic, mengatur kedalam serangkaian respon operasional yang meningkatkan dan menurunkan suhu tubuh secara berturut-turut. Termoregulasi adalah proses fisiologis yang merupakan kegiatan integrasi dan koordinasi yang digunakan secara aktif untuk mempertahankan suhu inti tubuh melawan perubahan suhu dingin atau hangat (Myers, 1984). Pusat pengaturan tubuh manusia ada di Hipotalamus, oleh karena itu jika hipotalamus terganggu maka mekanisme engaturan suhu tubuh juga akan terganggu dan mempengaruhi thermostat tubuh manusia. Mekanisme pengaturan suhu tubuh manusia erat kaitannya antara kerja sama system syaraf baik otonom, somatic dan endokrin. Sehingga ketika membahas mengenai pengaturan suhu oleh system persyarafan maka tidak lepas pula kaitannya dengan kerja system endokrin terhadap mekanisme pengaturan suhu tubuh seperti TSH dan TRH. E. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SUHU TUBUH Setiap saat suhu tubuh manusia berubah secara fluktuatif. Hal tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai factor yaitu : 1. Exercise: semakin beratnya exercise maka suhunya akan meningkat 15 x, sedangkan pada atlet dapat meningkat menjadi 20 x dari basal ratenya. 2. Hormon: Thyroid (Thyroxine dan Triiodothyronine) adalah pengatur pengatur utama basal metabolisme rate. Hormon lain adalah testoteron, insulin, dan hormon pertumbuhan dapat meningkatkan metabolisme rate 5-15%. 3. Sistem syaraf: selama exercise atau situasi penuh stress, bagian simpatis dari system syaraf otonom terstimulasi. Neuron-neuron postganglionik melepaskan norepinephrine (NE) dan juga merangsang pelepasan hormon epinephrine dan norephinephrine (NE) oleh medulla adrenal sehingga meningkatkan metabolisme rate dari sel tubuh. 4. Suhu tubuh: meningkatnya suhu tubuh dapat meningkatkan metabolisme rate, setiap peningkatan 1 % suhu tubuh inti akan meningkatkan kecepatan reaksi biokimia 10 %. 5. Asupan makanan: makanan dapat meningkatkan 10 – 20 % metabolisme rate terutama intake tinggi protein. 6. Berbagai macam factor seperti: gender, iklim dan status malnutrisi. 7. Usia:Pada saat lahir, mekanisme kontrol suhu masih imatur. Produksi panas meningkatseiring dengan pertumbuhan bayi memasuki masa anak-anak. regulasi suhu akannormal setelah anak mencapai pubertas.Lansia sensitif terhadap suhu yang ekstrem akibat turunnya mekanisme kontrolsuhu (terutama kontrol vasomotor), penurunan jumlah jaringan subkutan,penurunan aktivitas kelenjar keringat, penurunan metabolism 8. Olahraga:aktivitas otot memerlukan peningkatan suplai darah dan metabolisme lemak dankarbohidrat. 9. Kadar Hormon:suhu tubuh wanita lebih fluktuatif dibandingkan pria 10. Irama sirkardiansuhu tubuh berubah secara normal 0,5-1 derajat Celcius selama periode 24 jam.suhu tubuh rendah antara pukul 01:00 dan 04:00 dini hari. 11. Stres:stress fisik dan emosi meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi hormonal dan persyarafan 12. Lingkungan:mekanisme kontrol suhu tubuh akan dipengaruhi oleh suku disekitar. Walaupun terjadi perubahan suhu tubuh, tetapi tubuh mempunyai mekanisme homeostasis yang dapat dipertahankan dalam rentang normal. Suhu tubuh yang normal adalah mendekati suhu tubuh inti yaitu sekitar 37 0 C. suhu tubuh manusia mengalami fluktuasi sebesar 0,5 – 0,7 0 C, suhu terendah pada malam hari dan suhu tertinggi pada siang hari. Panas yang diproduksikan harus sesuai dengan panas yang hilang. F. GANGGUAN PENGATURAN SUHU TUBUH Diantaranya disebabkan oleh: 1. Demam: mekanisme pengeluran panas tidak mampu mengimbangi produksipanas. Demam terjadi karena perubahan set point hipotalamus. 2. Kelelahan akibat panas: terjadi apabila diaforesis yang banyak mengakibatkan kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebih. 3. Hipertermia: peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan ketidakmampuan tubuh untuk mengeluarkan panas. 4. Heat stroke: terpapar oleh panas dalam jangka yang cukup lama. 5. Hipotermia: pengeluaran panas akibat terpapar suhu dingin. Kita dapat mengukur suhu tubuh pada tempat-tempat berikut: 1. ketiak/ axilae: termometer didiamkan selama 10-15 menit 2. anus/ dubur/ rectal: termometer didiamkan selama 3-5 menit 3. mulut/ oral: termometer didiamkan selama 2-3 menit Adapun suhu tubuh normal menurut usia dapat dilihat pada tabel berikut: USIA SUHU (DERAJAT CELCIUS) 3 BULAN 37,5 6 BULAN 37,5 1 TAHUN 37,7 3 TAHUN 37,2 5 TAHUN 37,0 7 TAHUN 36,8 9 TAHUN 36,7 11 TAHUN 36,7 13 TAHUN 36,6 DEWASA 36,4 >70 TAHUN 36,0 FISIOLOGI TERKAIT DENGAN MEKANISME PENGATURAN SUHU Bagian otak yang berpengaruh terhadap pengaturan suhu tubuh adalah hipotalamus anterior dan hipotalamus posterior. Hipotalamus anterior (AH/POA) berperanan meningkatkan hilangnya panas, vasodilatasi dan menimbulkan keringat. Hipotalamus posterior (PH/ POA) berfungsi meningkatkan penyimpanan panas, menurunkan aliran darah, piloerektil, menggigil, meningkatnya produksi panas, meningkatkan sekresi hormon tiroid dan mensekresi epinephrine dan norepinephrine serta meningkatkan basal metabolisme rate. Jika terjadi penurunan suhu tubuh inti, maka akan terjadi mekanisme homeostasis yang membantu memproduksi panas melalui mekanisme feed back negatif untuk dapat meningkatkan suhu tubuh ke arah normal (Tortora, 2000). Thermoreseptor di kulit dan hipotalamus mengirimkan impuls syaraf ke area preoptic dan pusat peningkata panas di hipotalamus, serta sel neurosekretory hipotalamus yang menghasilkan hormon TRH (Thyrotropin releasing hormon) sebagai tanggapan.hipotalamus menyalurkan impuls syaraf dan mensekresi TRH, yang sebaliknya merangsang Thyrotroph di kelenjar pituitary anterior untuk melepaskan TSH (Thyroid stimulating hormon). Impuls syaraf dihipotalamus dan TSH kemudian mengaktifkan beberapa organ efektor. Berbagai organ fektor akan berupaya untuk meningkatkan suhu tubuh untuk mencapai nilai normal, diantaranya adalah : 1. Impuls syaraf dari pusat peningkatan panas merangsang syaraf sipatis yang menyebabkan pembuluh darah kulit akan mengalami vasokonstriksi. Vasokonstriksi menurunkan aliran darah hangat, sehingga perpindahan panas dari organ internal ke kulit. Melambatnya kecepatan hilangnya panas menyebabkan temperatur tubuh internal meningkatkan reaksi metabolic melanjutkan untuk produksi panas. 2. Impuls syaraf di nervus simpatis menyebabkan medulla adrenal merangsang pelepasan epinephrine dan norepinephrine ke dalam darah. Hormon sebaliknya , menghasilkan peningkatan metabolisme selular, dimana meningkatkan produksi panas. 3. Pusat peningkatan panas merangsang bagian otak yang meningkatkan tonus otot dan memproduksi panas. Tonus otot meningkat, dan terjadi siklus yang berulang-ulang yang disebut menggigil. Selama menggigil maksimum, produksi panas tubuh dapat meningkat 4x dari basal rate hanya dalam waktu beberapa menit• 4. Kelenjar tiroid memberikan reaksi terhadap TSH dengan melepaskan lebih hormon tiroid kedalam darah. Peningkatan kadar hormon tiroid secara perlahan-lahan meningkatkan metabolisme rate, dan peningkatan suhu tubuh. Jika suhu tubuh meningkat diatas normal maka putaran mekanisme feed back negatif berlawanan dengan yang telah disebutkan diatas. Tingginya suhu darah merangsang termoreseptor yang mengirimkan impuls syaraf ke area preoptic, dimana sebaliknya merangsang pusat penurun panas dan menghambat pusat peningkatan panas. Impuls syaraf dari pusat penurun panas menyebabkan dilatasi pembuluh darah di kulit. Kulit menjadi hangat, dan kelebihan panas hilang ke lingkungan melalui radiasi dan konduksi bersamaan dengan peningkatan volume aliran darah dari inti yang lebih hangat ke kulit yang lebih dingin. Pada waktu yang bersamaan, metabolisme rate berkurang, dan tidak terjadi menggigil. Tingginya suhu darah merangsang kelenjar keringat kulit melalui aktivasi syaraf simpatis hipotalamik. Saat air menguap melalui permukaan kulit, kulit menjadi lebih dingin. Respon ini melawan efek penghasil panas dan membantu mengembalikan suhu tubuh kembali normal. Skema Mekanisme Feedback Negatif Menghemat Atau Meningkatkan Produksi Panas Menurun menurun Diambil dari Tortora, 2000 halaman 900 BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Suhu tubuh adalah suatu keadaan kulit dimana dapat diukur dengan menggunakan thermometer yang dapat di bagi beberapa standar penilaian suhu, antara lain : normal, hipertermi, hipotermi, dan febris. Pengeluaran panas (heat loss) dari tubuh ke lingkungan atau sebaliknya berlangsung secara fisika. Permukaan tubuh dapat Kehilangan panas melalui pertukaran panas secara radiasi, konduksi, konveksi, dan evaporasi air. Alat penerima rangsang disebut reseptor,sedangkan alat penghasil tanggapan disebut efektor. Suhu tubuh dipengaruhi oleh exercize,hormone,system saraf,asupan makanan,gender iklim(lingkungan),usia,aktivitas otot,stress. B. SARAN Sebaiknya kita selalu menerapkan cara hidup sehat,agar tubuh kita selalu sehat dan tidak mengganggu aktivitas kita sehari-hari,agar suhu tubuh selalu dalam keadaan normal dan dapat menyesuaikan dengn kondisi lingkungan sekitar kita. DAFTAR PUSTAKA Tortora, J.T., Grabowski, S.R. (2000). Principles of anatomy and physiology. (9th ed.). Toronto: John Wiley & Sons, Inc _______(2000). Temperature regulation. Diambil pada 14 Februari 2006. dari http://www.science.uwc.ac.za/physiology/temperatur/temperature.html Journal of Endocrinology. (2005). Hypothalamic hormon a.k.a. hypothalamic releasing factors. Diambil pada 14 Februari 2006 dari http://joe.endocrinologyjournals. org/cgi/content/full Journal of Endocrinology. (2005). Functional anatomy of hypothalamic homeostatic systems. Diambil pada 13 Februari 2006 dair http://www.endotxt.org/neuroendo/neuroendo3b.html Myers, R.D. (1984). Neurochemistry of thermoregulation. The Physiologist,27, (1), 41-46